• Kamis, 22 Oktober 2026

Intelijen AS Ragukan Perubahan Rezim Iran Pasca Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 3 Maret 2026 | 08:15 WIB
Intelijen AS Ragukan Perubahan Rezim Iran Pasca Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei
Intelijen AS Ragukan Perubahan Rezim Iran Pasca Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei

MAHATVA.ID – Pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran pada Sabtu lalu, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dilaporkan meragukan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Republik Islam Iran akan berujung pada perubahan pemerintahan dalam waktu dekat.

Sebelum dan sesudah serangan dimulai, pejabat AS—termasuk Presiden —sempat mengisyaratkan bahwa menumbangkan sistem pemerintahan Iran yang represif merupakan salah satu tujuan strategis Washington, selain melumpuhkan program rudal balistik dan nuklir Iran.

Namun demikian, tiga pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen menyebut terdapat skeptisisme serius bahwa oposisi Iran yang saat ini terfragmentasi dan melemah mampu menggulingkan sistem teokratis otoriter yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

CIA: Rezim Iran Belum di Ambang Runtuh

Laporan (CIA) yang dipresentasikan kepada Gedung Putih beberapa minggu sebelum serangan menyimpulkan bahwa jika Khamenei tewas, kepemimpinan Iran kemungkinan besar akan beralih ke tokoh-tokoh garis keras dari (IRGC) atau ulama konservatif dengan pandangan serupa.

“Pejabat IRGC tidak mungkin menyerah secara sukarela, terutama karena mereka diuntungkan oleh jaringan perlindungan luas yang menjaga loyalitas internal,” ujar seorang pejabat AS, dikutip Reuters, Senin (2/3/2026).

Penilaian tersebut sejalan dengan laporan intelijen lain yang mencatat tidak adanya pembelotan IRGC selama gelombang besar protes anti-pemerintah pada Januari lalu, meskipun aksi tersebut ditanggapi dengan represi keras oleh aparat keamanan Iran. Para analis menilai pembelotan aparat keamanan merupakan prasyarat utama bagi keberhasilan sebuah revolusi.

Washington Tidak Melihat Kejatuhan Rezim dalam Waktu Dekat

Meski tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan runtuhnya pemerintah Iran—yang kini terpukul oleh kehilangan personel kunci dan ketidakpopuleran akibat represi berdarah—para pejabat AS menegaskan bahwa keruntuhan rezim masih jauh dari kata dekat.

Trump sendiri pada Minggu menyatakan niatnya untuk membuka kembali jalur komunikasi dengan Teheran, mengindikasikan bahwa Washington tidak melihat pemerintahan Iran akan segera tumbang dalam waktu dekat.

Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi, sementara CIA menolak berkomentar.

Kepemimpinan Sementara Iran dan Peringatan Keras

Di Teheran, Presiden Iran menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara—yang terdiri dari dirinya, kepala yudisial, dan anggota Dewan Garda—telah mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi untuk sementara waktu.

Sementara itu, Kepala Keamanan Iran menuduh AS dan Israel berupaya menghancurkan Iran, serta memperingatkan kelompok separatis akan adanya respons keras jika mencoba memanfaatkan situasi.

Pernyataan tersebut disiarkan televisi pemerintah Iran menyusul gelombang serangan udara AS dan Israel, yang menurut media pemerintah Iran mencakup pemboman fasilitas sipil—klaim yang hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.

Arah Masa Depan Iran Masih Diperdebatkan

Diskusi intelijen AS tidak hanya berfokus pada kemungkinan perubahan rezim, tetapi juga pada arah kebijakan luar negeri Iran pasca-Khamenei. Dua pejabat AS menyebut sejak Januari telah terjadi perdebatan intens mengenai apakah kematian Khamenei akan mengubah sikap Iran dalam negosiasi nuklir dengan Washington.

Selain itu, para pejabat AS juga memperdebatkan sejauh mana perubahan kepemimpinan dapat menghambat upaya Iran membangun kembali kapasitas rudal dan nuklirnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X