Paparan Djayeng Tirto mendapat respons positif dari peserta. Sesi diskusi berlangsung interaktif, dengan dua pertanyaan utama yang diajukan oleh masyarakat:
- Bagaimana cara mengatasi konflik antarkelompok pemuda?
- Apa peran perempuan dalam membangun budaya damai?
Menjawab pertanyaan ini, Djayeng Tirto memberikan solusi praktis yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam menangani konflik pemuda, serta pemberdayaan perempuan sebagai agen perdamaian.
Diskusi ini dimoderatori oleh Mala Hayati, mahasiswa DRK UNHAN, yang dengan santun dan terstruktur berhasil mengarahkan jalannya diskusi.
“Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari acara ini. Diskusi ini membuka wawasan baru bagi masyarakat dan mahasiswa,” ujarnya.
Kontribusi UNHAN dalam Membangun Perdamaian Lokal
Kegiatan ini menjadi bukti nyata kontribusi UNHAN dalam membangun perdamaian di tingkat lokal. Djayeng Tirto berharap kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan guna menciptakan lingkungan yang lebih damai dan inklusif.
“Perdamaian adalah tanggung jawab bersama, dan kita semua memiliki peran untuk mewujudkannya,” tutupnya.
Dengan pengalaman dan dedikasinya, Djayeng Tirto terus berperan dalam memperkuat budaya damai di berbagai daerah, menjadikan Palabuhanratu sebagai contoh sukses penerapan strategi resolusi konflik berbasis komunitas.