Ia menyoroti bahwa pola pikir fiskal pemerintah tidak bisa disamakan dengan rumah tangga. Belanja negara, selama akuntabel, justru merupakan penggerak utama perekonomian.
“Konsumsi pemerintah tinggi itu bagus, asalkan produktif. Yang penting bukan cuma izinnya, tapi juga sistemnya. Biar industri seperti hotel bisa tumbuh dengan pasti,” ujarnya.
Harapan Adanya Regulasi Turunan yang Jelas
Sirod menegaskan bahwa pelaku usaha tidak menolak pengawasan, tetapi mereka butuh kepastian hukum dan tata kelola yang sehat. Ia menyarankan agar kebijakan ini juga dibarengi dengan regulasi turunan yang menjaga transparansi dan mendukung pertumbuhan sektor MICE.
“Hotel bukan minta dilepas liar, mereka cuma minta ada kejelasan dan keadilan. Banyak kegiatan seperti pelatihan atau pertemuan teknis justru lebih efektif jika dilakukan di luar kantor,” tambahnya.
Stimulus Ekonomi yang Harus Konsisten
Lebih lanjut, Sirod menilai relaksasi ini bukan sekadar soal tempat rapat, tapi bagian dari stimulus ekonomi daerah. Ia berharap kebijakan ini menjadi awal dari langkah-langkah berkelanjutan untuk menyalakan kembali mesin konsumsi nasional.
“Yang penting bukan soal hotelnya, tapi bagaimana ekonomi daerah bisa bangkit lagi. Kalau ekonomi bergerak, otomatis usaha tumbuh, lapangan kerja terbuka. Itu yang kita harapkan bersama,” pungkasnya.