“Ini adalah momentum berbagi pengalaman konkret tentang bagaimana kami menangani isu intoleransi, dinamika ormas, dan menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman,” ungkap Sapta.
Kunjungan ke Kampung Toleransi ini menjadi ruang belajar yang efektif untuk memahami bagaimana pemerintah daerah membentuk Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), hingga peran Baporpakem dalam pengawasan kepercayaan masyarakat.
Menghubungkan Teori dan Praktik Resolusi Konflik
Kaprodi DRK, Dr. Arifuddin Ukhsan, menekankan pentingnya kunjungan ini untuk menjembatani teori yang dipelajari mahasiswa dengan realitas lapangan yang dihadapi pemerintah daerah.
“Mahasiswa pascasarjana di bidang pertahanan dan keamanan harus memahami dinamika sipil secara mendalam agar mampu merumuskan kebijakan yang responsif dan adaptif terhadap tantangan aktual,” tegas Ukhsan.
Ia menambahkan bahwa Jawa Barat dipilih sebagai lokasi studi karena mewakili kompleksitas sosial nasional, dengan populasi mendekati 70 juta jiwa dan tingkat keragaman yang tinggi.
Kolaborasi Akademik dan Pemerintahan Daerah
Melalui dialog langsung, pengamatan sosial, dan diskusi dengan komunitas, kunjungan ini mempertegas peran Unhan RI sebagai institusi pertahanan yang membekali mahasiswanya tidak hanya dengan teori militer dan keamanan, tetapi juga sensitivitas terhadap dinamika sosial-kultural lokal.
Kegiatan KKDN ini diharapkan menjadi model pembelajaran kolaboratif antara akademisi dan pemangku kebijakan di daerah, yang akan terus dikembangkan untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis masyarakat.