Bangunan Societeit Concordia pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Kongres Sarekat Islam pada 17–24 Juni 1916. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari dinamika pergerakan nasional dalam menghadapi kolonialisme.
H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, mendorong kebangkitan masyarakat pribumi untuk melawan penindasan dan memperjuangkan kemerdekaan.
Kehadiran kegiatan pergerakan nasional di gedung yang sebelumnya identik dengan kalangan elite Eropa menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah bangunan tersebut.
Pada masa pendudukan Jepang, nama Societeit Concordia berubah menjadi Dai Toa Kaikan dan digunakan sebagai pusat kebudayaan. Bagian sayap kiri gedung dikenal dengan nama Yamato.
Sejumlah catatan sejarah, sebagaimana dipaparkan dalam pameran, juga menyebutkan bahwa salah satu bagian gedung sempat mengalami kebakaran pada masa pendudukan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai markas Tentara Republik Indonesia dalam menghadapi tentara Jepang dan sebagai tempat kegiatan Pemerintah Kota Bandung.
Gedung Merdeka Menjadi Saksi Konferensi Asia Afrika 1955
Babak penting dalam sejarah gedung ini terjadi pada 1955, ketika Bandung dipilih menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika.
Untuk mendukung penyelenggaraan konferensi, bangunan Societeit Concordia direnovasi dan kemudian dikenal dengan nama Gedung Merdeka. Presiden Soekarno menjadi salah satu tokoh penting dalam penetapan nama tersebut.
Konferensi Asia Afrika mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika dalam upaya memperkuat solidaritas, menentang kolonialisme, serta mendorong kerja sama dan perdamaian dunia.
Sejak saat itu, Gedung Merdeka melekat sebagai simbol perjuangan kemerdekaan dan diplomasi internasional. Perannya tidak hanya penting bagi sejarah Indonesia, tetapi juga bagi perjalanan hubungan antarbangsa di Asia dan Afrika.
Setelah KAA, gedung tersebut sempat digunakan oleh sejumlah lembaga negara. Di antaranya sebagai Gedung Konstituante pada 1955, Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada 1959, serta gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada periode 1960–1971.
Museum KAA Menjaga Warisan Sejarah dan Diplomasi
Upaya melestarikan sejarah Konferensi Asia Afrika diwujudkan melalui pendirian Museum KAA. Museum tersebut diresmikan pada 24 April 1980, bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika.
Museum KAA kemudian menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sejarah konferensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Untuk memperluas keterlibatan publik, komunitas Sahabat Museum KAA dibentuk pada 11 Februari 2011. Kehadiran komunitas ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan menjaga semangat KAA melalui partisipasi masyarakat.
Melalui pameran foto sejarah, Museum KAA dan Bandung Heritage mengajak masyarakat melihat Gedung Merdeka secara lebih menyeluruh. Nilai pentingnya tidak hanya terletak pada arsitektur dan statusnya sebagai bangunan cagar budaya, tetapi juga pada berbagai peristiwa sosial, kebudayaan, politik, dan diplomasi yang pernah berlangsung di dalamnya.
Artikel Terkait
Jaga Kondusivitas Wilayah, Bupati Bogor Perkuat Kolaborasi Forkopimda
Lapas Cibinong Gelar Sidang TPP, Evaluasi Hak Integrasi Warga Binaan
CSF 750 Ton untuk Proyek Migas, TKDN Ditargetkan Capai 65 Persen