Publik Tanimbar, bahkan seluruh Maluku, kini menatap tajam ke arah Kapolda. Apakah institusi ini akan terus memelihara "kerikil dalam sepatu" yang menyakiti rakyat? Atau, akankah ada tindakan tegas untuk memenggal arogansi yang kian liar ini?
Jika seorang polisi lebih tersinggung oleh sebuah topi daripada tergerak oleh ancaman nyawa warga, maka pertanyaannya: Kepada siapa sebenarnya mereka mengabdi?
Markas polisi seharusnya menjadi rumah yang hangat bagi jiwa-jiwa yang terancam, bukan menjadi kandang singa yang siap menerkam mereka yang datang meminta perlindungan.
Tanimbar sedang melihat. Maluku sedang mencatat. Dan sejarah tidak akan lupa.