Pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang mendalam.
“Saya ingat berpikir, suatu hari saya ingin punya mobil seperti ini dari hasil kerja sendiri,” katanya.
Sekitar satu tahun kemudian, keinginan tersebut akhirnya terwujud.
Dari Mercedes-Benz SLK, ketertarikannya terhadap mobil berkembang. Donny kemudian memiliki dan menikmati berbagai sportscar, mulai dari Mercedes-Benz SL, BMW Z4, Porsche, Aston Martin, Ferrari hingga Lamborghini.
Ketika kemudian dipercaya menjadi direktur pemasaran di sebuah perusahaan properti kelas atas di Jakarta, Donny juga memahami bahwa dunia otomotif dapat membuka jaringan pertemanan dan relasi.
Namun, menurutnya, mobil mahal bukanlah penentu utama keberhasilan seseorang dalam membangun hubungan.
“Setelah itu yang menentukan tetap diri kita: integritas, kemampuan dan kepercayaan. Kalau itu tidak ada, mobil mahal tidak akan membuat hubungan bisnis bertahan,” ujarnya.
Jika dunia otomotif telah lama menjadi bagian dari kehidupannya, perjalanan akademik Donny justru semakin serius setelah memasuki usia 40 tahun.
Ia mengaku kemampuan akademiknya tidak selalu istimewa. Pengalaman pernah diremehkan dalam hal pendidikan justru menjadi energi untuk terus belajar.
“Dulu saya pernah diremehkan soal pendidikan dan kendaraan. Sekarang bukan untuk membuktikan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri bahwa keterbatasan pada satu periode kehidupan tidak harus menentukan masa depan kita,” ujarnya.
Baginya, kuliah di usia matang bukan sekadar upaya mengejar gelar.
“Mungkin orang lain punya hobi golf atau koleksi sesuatu. Setelah usia 40-an, saya malah punya hobi baru: kuliah,” ujarnya sambil tertawa.
Seminar internasional, penelitian, jurnal ilmiah hingga diskusi akademik kini berjalan berdampingan dengan aktivitasnya dalam dunia bisnis.
Menurut Donny, pendidikan tetap memiliki unsur ego dan kebanggaan pribadi. Namun, ia memilih mengarahkan hal tersebut menjadi energi positif.
“Kuliah memang memiliki unsur ego dan kebanggaan pribadi. Saya tidak menyangkal itu. Tetapi ego tersebut saya arahkan menjadi sesuatu yang positif: memaksa saya membaca, belajar dan meningkatkan kapasitas diri,” katanya.