berita

Singapura Genjot Angka Kelahiran: Rumah Subsidi Dipermudah, Bayi Dapat Dukungan Rp975 Juta

Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:59 WIB
Singapura Genjot Angka Kelahiran: Rumah Subsidi Dipermudah, Bayi Dapat Dukungan Rp975 Juta

“Karena kami ingin membantu keluarga yang sedang berkembang untuk segera mendapatkan rumah,” kata Wong.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah Singapura untuk membuat pasangan muda lebih mudah memperoleh hunian ketika membangun keluarga.

Bayi Singapura Dapat Dukungan hingga Rp975 Juta

Pemerintah Singapura juga memberikan dukungan finansial besar bagi anak-anak yang lahir dari warga negara Singapura.

Wong mengungkapkan, setiap anak dapat memperoleh dukungan finansial hampir 70.000 dolar AS atau sekitar Rp975 juta sepanjang masa pertumbuhannya.

Pada saat lahir, seorang bayi mendapatkan Baby Bonus sebesar 10.000 dolar AS atau sekitar Rp139,9 juta.

Selain itu, terdapat hibah MediSave 5.000 dolar AS, rekening Pengembangan Anak dengan hibah awal 5.000 dolar AS, serta tambahan hibah sebesar 1.000-5.000 dolar AS.

Dukungan tersebut kemudian berlanjut ketika anak tumbuh.

Setiap anak akan memperoleh Child Development Credit sebesar 2.000 dolar AS per tahun sejak usia satu hingga 16 tahun.

Mereka juga mendapatkan tambahan dana melalui skema Edusave selama menempuh pendidikan sekolah dasar dan menengah.

Ketika berusia 17 tahun, pemerintah kembali memberikan tambahan dana sebesar 10.000 dolar AS atau sekitar Rp139 juta ke dalam rekening pendidikan pascasekolah menengah.

“Jadi secara keseluruhan, setiap anak di Singapura akan menerima hampir US$70.000 dalam bentuk dukungan keuangan langsung seiring pertumbuhan mereka,” jelas Wong.

Angka Kelahiran Singapura Terus Menurun

Kebijakan tersebut tidak terlepas dari persoalan demografi yang dihadapi Singapura.

Angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) Singapura turun menjadi 0,87 pada 2025, level terendah sepanjang sejarah.

Pada tahun yang sama, jumlah pernikahan juga mengalami penurunan 6,2 persen, dari 26.328 pasangan pada 2024 menjadi 24.688 pasangan pada 2025.

Pemerintah Singapura pun membentuk kelompok kerja antarlembaga yang dipimpin Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah untuk mencari solusi terhadap tren penurunan pernikahan dan angka kelahiran tersebut.

Halaman:

Terkini