Angka tersebut menjadi perhatian investor karena IPO dilakukan ketika perusahaan justru menghadapi tekanan terhadap profitabilitas.
Persoalan Shein tidak berhenti pada perdagangan dan kinerja keuangan.
Perusahaan juga menghadapi peningkatan pengawasan regulator di Amerika Serikat dan Eropa.
Dalam prospektusnya, Shein mengatakan telah mencadangkan sekitar US$80 juta hingga akhir Maret untuk berbagai perkara hukum dan regulasi.
Perkara tersebut antara lain berkaitan dengan penyelidikan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat, penyelidikan berdasarkan EU Digital Services Act, serta kasus terkait privasi data di Prancis dan Irlandia.
Bagi investor, berbagai perkara tersebut menjadi faktor risiko tambahan yang perlu diperhitungkan sebelum membeli saham Shein.
Analis uSMART Securities Dickie Wong menilai prospek IPO Shein masih menghadapi tantangan.
Menurutnya, pertumbuhan perusahaan telah mengalami perlambatan yang signifikan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa IPO Shein bukan sekadar cerita mengenai perusahaan fast fashion terbesar yang masuk bursa.
Investor juga akan menilai apakah Shein masih mampu mempertahankan pertumbuhan agresif yang sebelumnya menjadi daya tarik utama perusahaan.
Sebab, valuasi hampir US$100 miliar pada 2022 dibangun atas ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi.
Kini, ketika pertumbuhan melambat, investor tentu meminta harga yang berbeda.
Meski menghadapi berbagai tantangan, sejumlah investor besar tetap menunjukkan kepercayaan terhadap Shein.
Sejumlah investor utama telah berkomitmen membeli saham Shein dengan nilai sekitar US$383 juta.
Komitmen tersebut dipimpin oleh pemegang saham yang telah ada, yakni Boyu, Tiger Global, dan General Atlantic.