JAKARTA, MAHATVA.ID — Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.319 titik panas terdeteksi di Sumatra, Kalimantan, dan Papua dalam satu hari, dengan Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi.
Berdasarkan laporan Monitoring dan Potensi Karhutla BMKG periode 20–26 Agustus 2026, kondisi atmosfer yang cenderung kering menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
Data BMKG pada 19 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB mencatat terdapat 34 titik panas di Sumatra, 1.106 titik di Kalimantan, dan 179 titik di Papua.
Jumlah tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas tinggi serta kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api.
Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak. BMKG mencatat Kalimantan Barat sebanyak 521 titik, disusul Kalimantan Tengah dengan 424 titik.
Selanjutnya, Kalimantan Timur terdeteksi 103 titik panas, Kalimantan Selatan 40 titik, dan Kalimantan Utara 18 titik.
Sementara itu, di Sumatra, titik panas tersebar di sejumlah provinsi. Kepulauan Bangka Belitung menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di Sumatra, yakni 15 titik.
Kemudian Riau tercatat tujuh titik, Sumatra Selatan lima titik, Lampung empat titik, Jambi dua titik, serta Kepulauan Riau satu titik.
Di wilayah Papua, BMKG mendeteksi 179 titik panas. Sebanyak 144 titik berada di Papua Selatan, disusul Papua Barat sebanyak 14 titik, Papua Tengah 10 titik, Papua Pegunungan delapan titik, Papua dua titik, serta Papua Barat Daya satu titik.
BMKG menjelaskan, kondisi dinamika atmosfer saat ini masih dipengaruhi sejumlah fenomena iklim global yang berpotensi mendukung kondisi cuaca lebih kering.
Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih terpantau persisten. Pada Dasarian I Agustus 2026, indeks IOD tercatat sebesar +0,457, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +0,242.
Kondisi tersebut ditandai dengan suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di Samudra Hindia bagian barat dan lebih dingin di sekitar perairan Sumatra serta Jawa bagian barat.
Secara umum, kondisi IOD positif dapat mengurangi suplai uap air menuju wilayah Indonesia sehingga berpotensi mendukung kondisi atmosfer yang lebih kering.
Selain itu, nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) Nino3.4 tercatat sebesar +2,77, meningkat dibandingkan Juli yang berada pada angka +2,20. Kondisi tersebut menunjukkan adanya El Niño dengan intensitas sangat kuat.