berita

Prabowo Dorong Atap Ijuk dan Rumbia, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:51 WIB
Prabowo Dorong Atap Ijuk dan Rumbia, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Jakarta,MAHATVA.ID -Presiden Prabowo Subianto mendorong masyarakat Indonesia mempertimbangkan kembali penggunaan bahan alami seperti ijuk dan rumbia sebagai material atap rumah. Gagasan tersebut disampaikan sebagai alternatif terhadap penggunaan seng dan asbes.

Prabowo bahkan menyebut ijuk dan rumbia sebagai bagian dari identitas rumah tradisional Indonesia. Menurutnya, masyarakat Nusantara sejak dahulu telah menggunakan material alami tersebut sebelum material atap modern berkembang.

Lantas, seperti apa sebenarnya atap berbahan ijuk dan rumbia?

Atap ijuk merupakan salah satu jenis penutup bangunan tradisional yang menggunakan serat dari pohon aren atau Arenga pinnata. Berdasarkan jurnal Penggunaan Ijuk Sebagai Material Atap Alami karya Ida Bagus Andyka Prasetya Putrasusila, serat ijuk memiliki karakter yang kuat, agak kaku tetapi tetap lentur.

Material tersebut juga tidak mudah putus maupun rapuh serta memiliki ketahanan terhadap kelembapan. Karakteristik itu membuat ijuk dapat digunakan sebagai bahan penutup bangunan yang relatif tahan terhadap kondisi cuaca.

Sementara itu, rumbia atau nipah merupakan tanaman yang banyak ditemukan di wilayah tropis. Berdasarkan jurnal Pemberdayaan Atap dari Rumbia untuk Peningkatan Perekonomian Masyarakat Desa Sei Tatas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia karya Rahmah dan sejumlah penulis lainnya, daun rumbia memiliki serat yang kuat dan lentur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan atap ramah lingkungan.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto mengatakan penggunaan ijuk dan rumbia sebagai material atap merupakan bagian dari tradisi masyarakat Nusantara.

Menurut Teguh, pada masa lalu rumah-rumah di Indonesia banyak menggunakan material alami tersebut. Kini, penggunaannya lebih banyak bertahan pada rumah-rumah di wilayah pedalaman.

“Pada masa dahulu, seluruh rumah di Nusantara, memakai atap berbahan dasar ijuk atau rumbia karena berbahan dasar alami,” kata Teguh dilangsir dari Detik.com.

Ia menjelaskan, ijuk dan rumbia berasal dari bahan alami yang terlebih dahulu melalui proses pengeringan sebelum digunakan sebagai material atap.

Secara teknis, menurut Teguh, penggunaan kedua material tersebut masih memungkinkan untuk diterapkan. Namun, material tersebut dinilai kurang praktis untuk kebutuhan bangunan modern.

Salah satu persoalannya adalah keberadaan industri yang memproduksi atap ijuk dan rumbia kini tidak lagi seperti dahulu. Di sisi lain, masyarakat telah memiliki berbagai pilihan material atap yang dirancang lebih kuat dan tahan lama.

Teguh juga mengingatkan sejumlah kelemahan material alami tersebut.

“Banyak kelemahan dari bahan tersebut (ijuk dan rumbia), seperti mudah terbakar, dan rentan akan kebocoran,” ujarnya.

Halaman:

Terkini