AMBON,MAHATVA.ID -Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela yang sempat mengalami stagnasi selama puluhan tahun kini mulai menunjukkan titik terang.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), H. Sudaryono, meyakini bahwa di bawah kepemimpinan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, hambatan-hambatan besar yang menyandera pengembangan ladang gas abadi tersebut mulai terurai.
Pernyataan ini disampaikan Sudaryono, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), dalam sambutannya pada acara Pelantikan pengurus HKTI Maluku di Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Minggu (20/9/2026) di langsir dari BABETO.ID.
Sudaryono menyoroti perjalanan panjang Blok Masela yang telah menjadi diskursus publik sejak era Presiden B.J. Habibie, namun kerap terjebak dalam pusaran ketidakpastian.
Menurutnya, percepatan yang terjadi saat ini tidak lepas dari sinergi kuat antara pemerintah daerah dan visi strategis pemerintah pusat.
“Blok Masela telah menjadi pembahasan selama berpuluh-puluh tahun tanpa penyelesaian yang konkret. Namun, hari ini kita melihat langkah nyata. Persoalan ini mulai tuntas di bawah kepemimpinan Pak Hendrik Lewerissa,” ujar Sudaryono di hadapan para undangan.
Lebih lanjut, Sudaryono menekankan bahwa akselerasi ini merupakan hasil dari keselarasan kebijakan pasca-dilantiknya Prabowo Subianto sebagai Presiden.
Ia menilai, pemerintah pusat memberikan atensi khusus untuk membereskan proyek-proyek energi skala besar yang terbengkalai, dengan menempatkan kepemimpinan daerah sebagai ujung tombak eksekusi di lapangan.
“Sejak Presiden Prabowo Subianto memimpin, langkah-langkah taktis langsung diambil untuk menuntaskan persoalan Blok Masela yang sudah berjalan sejak era kepemimpinan almarhum Pak Habibie. Ini adalah momentum bersejarah, dan merupakan legacy (warisan) penting dari Gubernur Hendrik Lewerissa bagi masyarakat Maluku,” tambahnya.
Penuntasan proyek Blok Masela dinilai bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan pilar penting bagi kedaulatan energi nasional serta motor penggerak ekonomi di kawasan Timur Indonesia.
Sudaryono optimis bahwa keberhasilan ini akan membawa dampak domino, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan di Maluku melalui efek pengganda (multiplier effect) ekonomi.
Pernyataan ini sekaligus mempertegas posisi Hendrik Lewerissa sebagai pemimpin yang mampu mengonsolidasikan kepentingan daerah dengan agenda strategis nasional, membawa Maluku keluar dari bayang-bayang janji pembangunan menuju realitas kesejahteraan.