MAHATVA.ID -Gempa tektonik dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu subuh memakan korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi dua orang meninggal dunia akibat peristiwa yang berpusat di laut dekat Kabupaten Nagekeo tersebut .
Berdasarkan laporan pendahuluan dari Kodim Sikka, dua korban jiwa tercatat di kawasan Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Kedua korban terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan,
sementara satu orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. data ini disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, masih dalam proses verifikasi lebih lanjut oleh tim di lapangan.
Guncangan gempa utama terjadi pada pukul 04.58.24 WIB, dirasakan sangat kuat selama kurang lebih satu menit di sejumlah wilayah, termasuk Nagekeo, Sikka, dan Manggarai Barat. Kepanikan melanda warga yang berhamburan keluar rumah menyusul peringatan dini tsunami yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) .
Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan BPBD segera bergerak. Evakuasi massal dilakukan di kawasan pesisir, dengan imbauan warga menjauhi pantai hingga ketinggian lebih dari 10 meter atau bergerak ke daratan minimal 1,5 kilometer .
"Evakuasi wajib dilakukan sampai BMKG secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami," tegas Deputi Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, mengingatkan bahaya kecepatan arus tsunami yang dapat menyeret manusia meski ketinggian air hanya 50 sentimeter .
Upaya respons cepat ini membuahkan hasil. BMGI resmi mencabut peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan.
Meski demikian, masyarakat diimbau tetap menjauhi bangunan yang mengalami keretakan karena berpotensi roboh akibat gempa susulan .
Runtutan Gempa Susulan dan Analisis Ilmiah
Hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mencatat sedikitnya 37 kali gempa susulan dengan magnitudo bervariasi dari 3,6 hingga 6,2 . Gempa susulan terbesar terjadi pada pukul 05.13 WIB dan 05.28 WIB dengan Magnitudo 6,2, diikuti Magnitudo 5,6 dan 5,5 . Meski terasa kuat, BMKG menyatakan gempa-gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini diakibatkan oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) .
Sesar ini, menurut catatan sejarah, pernah memicu gempa dahsyat pada tahun 1992 dengan Magnitudo 7,5 yang juga menimbulkan kerusakan parah dan tsunami.
"Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores," ujar Wijayanto, seraya menambahkan bahwa wilayah ini memiliki potensi gempa maksimum hingga Magnitudo 7,9 .
Guncangan tidak hanya dirasakan di NTT. Getaran gempa menjangkau Kota Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan beberapa wilayah di Sulawesi Selatan, seperti Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros, menyebabkan kepanikan serupa .