Trump dan Netanyahu Tegaskan Konflik Belum Selesai
Ketegangan geopolitik ini dinilai meningkatkan tekanan terhadap Donald Trump menjelang kunjungannya ke China pekan ini.
Konflik berkepanjangan disebut memicu ketidakpastian ekonomi global dan ancaman krisis energi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi minyak dunia.
Saat ditanya apakah operasi militer terhadap Iran telah selesai, Trump memberikan jawaban ambigu.
“Mereka sudah dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka sudah selesai,” katanya.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan perang belum benar-benar berakhir.
“Ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujar Netanyahu terkait isu uranium Iran, fasilitas pengayaan, kelompok proksi, dan rudal balistik Teheran.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan asing.
“Iran tidak akan pernah tunduk kepada musuh,” tulis Pezeshkian di media sosial.
Iran Peringatkan Kapal Perang Asing di Hormuz
Ketegangan kembali meningkat setelah muncul rencana pembentukan misi internasional guna mengamankan pelayaran di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi memperingatkan bahwa pengerahan kapal perang asing di sekitar Hormuz akan dianggap sebagai bentuk eskalasi.
Sementara Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan negaranya siap mendukung misi internasional, namun membantah adanya rencana pengerahan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“Kami tidak pernah membayangkan pengerahan militer untuk membuka kembali Hormuz,” kata Macron.
Di dalam negeri AS, Trump juga menghadapi tekanan politik dari Partai Demokrat yang mendorong penghentian perang melalui legislasi War Powers Act.
Senator senior Demokrat, Jack Reed menilai situasi semakin memburuk akibat kebijakan Trump sendiri.
“Ini adalah situasi yang menjadi jauh lebih buruk karena tindakan Donald Trump,” ujar Reed.