• Minggu, 18 Oktober 2026

AHY Soroti Ancaman Serius Pantura Jawa: Penurunan Tanah hingga Krisis Air Bersih

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 5 Mei 2026 | 14:01 WIB
AHY Soroti Ancaman Serius Pantura Jawa: Penurunan Tanah hingga Krisis Air Bersih
AHY Soroti Ancaman Serius Pantura Jawa: Penurunan Tanah hingga Krisis Air Bersih

JAKARTA, MAHATVA.ID – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap kondisi pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura) yang semakin mengkhawatirkan akibat berbagai tekanan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan AHY dalam rapat koordinasi bersama kementerian, lembaga, dan kepala daerah untuk membahas perlindungan kawasan Pantai Utara Jawa, Senin (4/5/2026).

Turut hadir dalam rapat tersebut Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria, serta sejumlah perwakilan kementerian dan pemerintah daerah.

AHY mengungkapkan bahwa Pantura Jawa mengalami penurunan permukaan tanah yang cukup signifikan, yakni antara 15 hingga 20 sentimeter per tahun.

Ia menyebut kondisi terparah terjadi di wilayah Jakarta dan Semarang, meskipun fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah lainnya.

“Telah terjadi penurunan permukaan tanah mulai 15 hingga 20 cm per tahun. Ini menjadi ancaman serius bagi kawasan pesisir,” ujarnya.

Selain penurunan tanah, kawasan Pantura juga menghadapi kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, dengan rata-rata kenaikan mencapai 0,8 hingga 1,2 cm per tahun.

Menurut AHY, kondisi ini menciptakan “tekanan ganda” (twin pressure) yang meningkatkan risiko banjir rob dan kerusakan permukiman warga.

“Ini berpotensi menghancurkan properti, merusak rumah warga, dan memicu bencana yang lebih fatal di masa depan,” jelasnya.

Ia juga memperingatkan bahwa tanpa intervensi serius, kondisi genangan air laut pada tahun 2050 akan jauh lebih buruk.

Tak hanya kelebihan air akibat banjir, masyarakat di kawasan Pantura juga menghadapi ancaman kekurangan air bersih.

Fenomena ini terjadi akibat intrusi air laut dan kerusakan lingkungan yang memengaruhi kualitas sumber air.

“Kita menghadapi paradoks, kelebihan air dalam bentuk banjir, tetapi juga kekurangan air bersih. Ini harus ditangani secara serius,” tegas AHY.

AHY menegaskan bahwa Pantura Jawa memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, kawasan ini berkontribusi sekitar 27,53% atau setara US$368,37 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X