MAHATVA.ID – Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali terjadi di Lebanon. Seorang tentara Prancis dilaporkan tewas, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi serius.
Korban tewas diidentifikasi sebagai Florian Montorio, anggota Resimen Insinyur Parasut ke-17. Insiden terjadi saat patroli UNIFIL tengah melakukan pembersihan bahan peledak di wilayah desa Ghanduriyah, Lebanon selatan.
Dalam pernyataannya, UNIFIL menyebut patroli mereka diserang menggunakan senjata ringan oleh “aktor non-negara”. Tembakan tersebut secara langsung mengenai korban hingga menyebabkan kematian.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengecam keras serangan tersebut dan menuntut pertanggungjawaban pihak pelaku. Ia menyebut indikasi awal mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, juga mengutuk serangan tersebut dan memerintahkan penyelidikan segera.
“Perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius bagi Lebanon dan hubungannya dengan negara-negara sahabat,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengecam insiden tersebut dan mendesak semua pihak untuk menghormati gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Berdasarkan pengkajian awal UNIFIL, serangan diduga dilakukan oleh kelompok Hizbullah. Namun, Hizbullah secara tegas membantah keterlibatan mereka dan meminta publik menunggu hasil investigasi resmi dari militer Lebanon.
“Kami membantah keterlibatan dalam insiden ini dan menyerukan kehati-hatian dalam menetapkan tanggung jawab,” demikian pernyataan Hizbullah.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyampaikan belasungkawa atas gugurnya personel penjaga perdamaian tersebut. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa serangan di tengah masa gencatan senjata tidak dapat diterima.
Kemlu RI juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri, menghormati kedaulatan negara, serta menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter.
Insiden ini terjadi di tengah upaya menjaga stabilitas kawasan setelah diberlakukannya gencatan senjata sementara. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dikhawatirkan dapat memperburuk eskalasi konflik di wilayah tersebut.