MAHATVA.ID – Situasi di kawasan Teluk kian memanas setelah militer Amerika Serikat mengambil tindakan langsung terhadap kapal berbendera Iran yang berusaha menembus blokade laut di Teluk Oman.
Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance, telah menembaki dan menyita kapal kargo Iran bernama Touska setelah mengabaikan peringatan untuk berhenti.
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (19/4/2026), Trump menyebut kapal tersebut tidak mematuhi instruksi militer.
“Kapal itu dihentikan tepat di tempat dengan melubangi ruang mesin,” tulis Trump.
“Saat ini Marinir AS telah mengamankan kapal tersebut dan sedang memeriksa muatannya.”
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan tinggi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Kawasan ini praktis terganggu sejak konflik antara AS-Israel dan Iran berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, Iran sempat membuka kembali jalur pelayaran sebagai bagian dari gencatan senjata regional. Namun, keputusan itu hanya berlangsung singkat setelah Washington tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran.
United States Central Command (CENTCOM) menjelaskan bahwa kapal Touska saat itu tengah berlayar menuju Bandar Abbas. Untuk menghentikan laju kapal, militer AS menembakkan peluru meriam kaliber lima inci yang menargetkan sistem propulsi.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut tindakan tersebut dilakukan setelah awak kapal mengabaikan perintah untuk mengosongkan ruang mesin. Bahkan, sejak blokade diberlakukan, militer AS telah memaksa sedikitnya 25 kapal komersial untuk berbalik arah.
Trump juga mengklaim kapal Touska masuk dalam daftar sanksi Office of Foreign Assets Control (OFAC) karena diduga terlibat aktivitas ilegal sebelumnya.
Berdasarkan data pelacakan maritim, kapal tersebut terakhir terdeteksi sekitar 45 kilometer dari pesisir Iran, dekat Chabahar, sebelum insiden terjadi. Sementara laporan lain menyebut kapal itu sebelumnya berlayar dari Malaysia.
Di sisi lain, komando militer Iran, Khatam al-Anbiya, mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan menyebutnya sebagai “pembajakan bersenjata”.
“Angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas tindakan ini,” tegas juru bicara militer Iran.
Ketegangan terbaru ini berpotensi semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk serta memicu gangguan serius terhadap stabilitas energi global.