• Senin, 19 Oktober 2026

Blokade Selat Hormuz oleh AS Picu Krisis Energi Global, India dan China Paling Terdampak

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 16 April 2026 | 14:54 WIB
Blokade Selat Hormuz oleh AS Picu Krisis Energi Global, India dan China Paling Terdampak
Blokade Selat Hormuz oleh AS Picu Krisis Energi Global, India dan China Paling Terdampak

MAHATVA.ID – Kebijakan Amerika Serikat (AS) memblokir jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz mulai menimbulkan dampak signifikan terhadap pasar energi global. Langkah yang diberlakukan sejak awal pekan ini tidak hanya menekan Iran, tetapi juga memukul negara-negara besar seperti India dan China yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini secara langsung memicu ketidakstabilan pasokan energi global dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara importir minyak.

India Hadapi Tekanan Energi Berat

India menjadi salah satu negara yang paling terdampak akibat kebijakan ini. Selain terganggunya pasokan minyak dari Iran, India juga harus menghadapi berakhirnya pengecualian dari AS untuk membeli minyak Rusia per 11 April 2026.

Kepala analis minyak X. Analysts, Mukesh Sahdev, menyebut kondisi ini mempersempit ruang gerak India dalam memenuhi kebutuhan energi domestiknya.

“India menghadapi tekanan pasokan yang semakin meningkat dengan hilangnya pasokan minyak Iran, ditambah tidak mendapatkan pasokan minyak Rusia,” ujarnya.

Saat ini, India mengimpor lebih dari 85 persen kebutuhan minyaknya, setara sekitar 5,5 juta barel per hari. Gangguan di Selat Hormuz menyebabkan hilangnya sekitar 3 juta barel per hari yang sebelumnya melintas melalui jalur tersebut.

Situasi ini memaksa kilang minyak India mencari sumber alternatif, meskipun opsi yang tersedia semakin terbatas. Kondisi diperparah dengan cadangan minyak India yang hanya sekitar 160 juta barel, cukup untuk kebutuhan sekitar 30 hari.

Dampaknya mulai terasa pada sektor ekonomi. Aktivitas sektor swasta India tercatat melambat ke level terendah sejak Oktober 2022, seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

China Bereaksi Keras

Di sisi lain, China juga merespons keras kebijakan AS tersebut. Sebagai pembeli terbesar minyak Iran, China memiliki kepentingan besar agar jalur Selat Hormuz tetap terbuka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut langkah AS berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

“China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata komprehensif dan mengakhiri perang, situasi di selat dapat diredakan,” ujarnya.

Penutupan jalur tersebut dinilai dapat mengganggu pasokan energi China dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonominya.

Pasar Minyak Global Bergejolak

Ketegangan di Selat Hormuz juga berdampak langsung pada pasar minyak global. Harga minyak mentah Brent sempat turun sekitar 1 persen ke level US$98,44 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 2,6 persen menjadi US$96,48 per barel.

Meski sempat terkoreksi, para analis memperingatkan bahwa pasar tetap dalam kondisi rentan. Gangguan pasokan serta berakhirnya akses terhadap minyak Rusia berpotensi kembali mendorong harga naik dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X