MAHATVA.ID — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kebuntuan negosiasi damai mendorong Presiden AS Donald Trump mengambil langkah tegas dengan memblokade akses ke Selat Hormuz.
Langkah ini dilakukan dengan mengerahkan armada militer untuk membatasi pergerakan kapal-kapal, termasuk memaksa kapal tertentu berbalik arah menuju Teluk Persia atau Teluk Oman.
Dampak Besar ke Ekonomi Iran dan Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan atau pembatasan akses di kawasan ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak global.
Iran sendiri sangat bergantung pada jalur ini, dengan sekitar 80 persen ekspor minyaknya melewati Selat Hormuz. Data menunjukkan, ekspor minyak Iran sempat meningkat selama periode konflik, mencapai hingga 1,84 juta barel per hari pada Maret 2026.
Dengan harga minyak yang sempat menyentuh di atas US$90 per barel, Iran diperkirakan meraup hampir US$5 miliar dalam satu bulan terakhir—meningkat sekitar 40 persen dibanding sebelum konflik.
Namun, blokade AS berpotensi memangkas kemampuan ekspor tersebut secara signifikan.
“Iran tidak akan bisa mengekspor minyak dalam jumlah yang sama,” ujar analis geopolitik dari Doha, Mohamad Elmasry, seperti dikutip Al Jazeera.
Perdagangan Non-Minyak Juga Terpukul
Selain minyak, blokade ini juga berdampak pada ekspor komoditas lain seperti petrokimia, plastik, dan produk pertanian yang selama ini dikirim ke negara-negara seperti China dan India.
Di sisi lain, impor barang penting seperti mesin industri, elektronik, dan bahan pangan juga terancam terganggu, yang dapat memperburuk tekanan ekonomi domestik Iran.
Analis menyebut, gangguan pada sektor non-hidrokarbon berpotensi memperparah defisit perdagangan dan meningkatkan tekanan ekonomi yang sudah terdampak sanksi sebelumnya.
China dan Jalur Alternatif
Sebagian besar ekspor minyak Iran saat ini diketahui mengarah ke China. Kondisi ini membuat posisi China menjadi krusial dalam dinamika konflik.
Sebagai antisipasi, Iran dan China telah mengembangkan jalur alternatif melalui koneksi kereta api lintas Asia Tengah, melewati Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.
Meski demikian, para analis menilai jalur darat ini belum mampu menggantikan peran transportasi laut, khususnya untuk komoditas energi dalam jumlah besar.
Potensi Eskalasi Konflik
Situasi di kawasan semakin tidak menentu. Iran bahkan mengancam akan memperluas konflik dengan menutup akses di Selat Bab al-Mandab, jalur strategis lain yang menghubungkan Laut Merah.