MAHATVA.ID — Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengumumkan bahwa Teheran akan segera memulai strategi baru dalam pengelolaan Selat Hormuz, jalur perairan vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pesan resmi pada Kamis (9/4/2026), bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya pendahulunya, Ali Khamenei.
Dalam pidatonya, Mojtaba menegaskan bahwa Iran memasuki fase baru dalam pengelolaan jalur laut strategis tersebut, sekaligus menandai arah kebijakan pasca-konflik di kawasan Timur Tengah.
Tuntut Ganti Rugi Pasca Konflik
Mojtaba juga menyoroti konflik yang berlangsung lebih dari satu bulan, yang disebut bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Setelah eskalasi konflik, Iran dan Amerika Serikat diketahui telah menyepakati gencatan senjata pada Rabu (8/4/2026). Meski demikian, Iran menegaskan akan tetap menuntut pertanggungjawaban atas kerugian yang ditimbulkan.
“Iran tidak akan pernah meninggalkan hak-hak sahnya,” tegas Mojtaba Khamenei, seraya menambahkan bahwa negaranya akan menuntut reparasi atas kerugian material maupun moral, termasuk korban jiwa dan luka-luka.
Pesan Tegas ke Kawasan dan Sikap Militer
Dalam pidatonya, Mojtaba menggambarkan front perlawanan regional sebagai satu kesatuan yang terintegrasi. Ia juga menyampaikan pesan kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk agar mencermati dinamika geopolitik yang tengah berlangsung.
“Anda sedang menyaksikan sebuah keajaiban. Oleh karena itu, lihatlah dengan benar, pahami dengan benar, dan berdirilah di tempat yang tepat,” ujarnya.
Meski melontarkan pernyataan tegas, Mojtaba menegaskan bahwa Iran pada dasarnya tidak menginginkan peperangan. Namun, ia memperingatkan bahwa kekuatan militer Iran tetap berada dalam kondisi siaga tinggi.
Negosiasi di Islamabad
Pernyataan ini muncul di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh, yang dimediasi oleh Pakistan.
Jika tidak ada kendala, negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026), sebagai upaya meredakan ketegangan dan mencari solusi jangka panjang di kawasan.
Perkembangan ini menjadi perhatian dunia internasional mengingat posisi strategis Selat Hormuz dalam rantai pasok energi global serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan geopolitik dunia.