MAHATVA.ID – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran akan mencapai intensitas tertinggi dalam waktu dekat.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama terkait ultimatum pembukaan Selat Hormuz yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump.
Dilansir Al Jazeera, Hegseth menyebut bahwa serangan yang dilakukan akan menjadi yang terbesar sejak konflik dimulai.
“Hari ini akan menjadi volume serangan terbesar sejak hari pertama operasi ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa intensitas serangan akan kembali meningkat pada hari berikutnya.
“Besok, bahkan lebih dari hari ini. Saat itu Iran punya pilihan,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump mengancam konsekuensi besar jika Iran tidak mematuhi tuntutan tersebut.
“Waktu hampir habis — 48 jam sebelum semua neraka akan menimpa mereka,” tulis Trump.
Ancaman ini berkaitan dengan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, yang sangat vital bagi stabilitas ekonomi global.
Trump sebelumnya sempat mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran pada 21 Maret, namun kemudian menunda aksi tersebut setelah adanya sinyal komunikasi dengan pihak Iran.
Meski demikian, tenggat waktu kembali diperpanjang hingga Senin pukul 20.00 waktu setempat (00.00 GMT Selasa), yang kini semakin mendekati batas akhir.
Eskalasi konflik ini berpotensi memicu dampak luas, di antaranya: