• Selasa, 20 Oktober 2026

Krisis Selat Hormuz Guncang Dunia: Gangguan Pasokan Terbesar Sepanjang Sejarah Energi Global

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Minggu, 5 April 2026 | 17:23 WIB
Krisis Selat Hormuz Guncang Dunia: Gangguan Pasokan Terbesar Sepanjang Sejarah Energi Global
Krisis Selat Hormuz Guncang Dunia: Gangguan Pasokan Terbesar Sepanjang Sejarah Energi Global

MAHATVA.ID – Ketegangan yang terus memuncak di Timur Tengah memicu krisis pengapalan di Selat Hormuz yang kini disebut sebagai gangguan pasokan paling parah dalam sejarah pasar energi dan komoditas global. Pemblokiran jalur vital ini tak hanya mengancam distribusi minyak, tetapi juga menimbulkan efek domino terhadap rantai pasok global, mulai dari pangan hingga teknologi tinggi.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut situasi ini sebagai fenomena luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” ujar Birol, dikutip dari World Economic Forum (WEF), Minggu (5/4/2026).

Setiap hari, sekitar 11 juta barel minyak dan 140 miliar meter kubik gas melintasi Selat Hormuz. Namun dampak krisis ini jauh melampaui sektor energi, mengingat kawasan Timur Tengah juga merupakan pemasok utama berbagai komoditas strategis dunia.


Dampak Global: Dari Pangan hingga Teknologi

1. Pupuk (Urea dan Amonia)

Kawasan Teluk menyumbang sekitar 20% ekspor pupuk dunia melalui jalur laut, dengan dominasi hingga 46% untuk urea global. Gangguan pasokan berpotensi menaikkan biaya produksi pangan, terutama di negara besar seperti India, Brasil, dan China.

2. Sulfur

Hampir setengah perdagangan sulfur laut dunia melewati Selat Hormuz. Kelangkaan komoditas ini berdampak langsung pada industri pupuk dan pemurnian logam untuk baterai kendaraan listrik (EV), termasuk nikel dan kobalt.

3. Metanol

Sekitar sepertiga pasokan metanol global terganggu, memukul industri kimia seperti plastik, resin, dan pelapis. China sebagai konsumen terbesar menghadapi ancaman krisis pasokan serius.

4. Bahan Baku Grafit

Krisis ini juga memukul produksi grafit sintetis, komponen penting baterai EV. Lonjakan harga diprediksi lebih tinggi dibanding material baterai lainnya akibat keterbatasan pasokan dan mahalnya logistik.

5. Aluminium

Timur Tengah menyumbang sekitar 9% produksi aluminium dunia di luar China. Saat ini, lebih dari 150.000 ton stok telah ditarik dari gudang global, menandakan tekanan besar pada pasar logam ini.

6. Helium

Qatar sebagai pemasok hampir sepertiga helium dunia terdampak signifikan. Kelangkaan helium mengancam industri semikonduktor hingga sektor kesehatan, khususnya operasional mesin MRI.

7. Monoetilen Glikol (MEG)

Dengan volume ekspor mencapai 6,5 juta ton pada 2025, gangguan pasokan MEG berdampak besar pada industri tekstil dan kemasan. Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, mulai mencari alternatif pasokan dari AS dengan biaya lebih tinggi.

8. Bijih Besi dan Baja

Gangguan logistik membuat pembeli di Asia dan India menunda pengadaan. Kenaikan biaya pengiriman dan waktu distribusi menekan industri baja global yang sudah beroperasi dengan margin tipis.

9. Infrastruktur Hidrogen Hijau

Ketidakstabilan kawasan mengancam pengembangan proyek hidrogen hijau di Timur Tengah yang sebelumnya digadang sebagai pusat energi masa depan.

Krisis ini menandai pergeseran besar dalam dinamika ekonomi global. Ketergantungan terhadap jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz kini menjadi isu keamanan internasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X