MAHATVA.ID – Harga emas dunia menunjukkan penguatan dalam dua hari terakhir di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Namun di balik penguatan jangka pendek tersebut, emas justru mencatat penurunan bulanan yang tajam sepanjang Maret 2026.
Penurunan harga emas tercatat lebih dari 14,6% sepanjang Maret, menjadikannya salah satu performa bulanan terburuk sejak krisis keuangan global pada Oktober 2008.
Kontradiksi Pasar: Naik karena Konflik, Turun karena Suku Bunga
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat terjadi ketidakpastian geopolitik. Konflik Timur Tengah biasanya mendorong investor beralih ke emas.
Namun kali ini terjadi fenomena kontradiktif:
Harga emas naik karena ketegangan geopolitik
Harga emas turun tajam secara bulanan akibat tekanan makroekonomi
Lonjakan harga energi akibat konflik memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.
Kebijakan The Fed Jadi Penentu
Pergerakan emas sangat dipengaruhi kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).
Saat suku bunga tinggi:
Imbal hasil obligasi meningkat
Dolar AS menguat
Emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan yield
The Fed diperkirakan akan menahan kebijakan sambil mengevaluasi dampak perang Iran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.