Konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini terus meluas ke berbagai negara. Israel menuduh Iran menyerang kawasan suci di Yerusalem, termasuk area sekitar Masjid Al-Aqsa, Tembok Barat, dan Gereja Makam Kudus.
Ketegangan juga merambat ke negara lain. Turki mengecam serangan Israel ke kamp militer di Suriah selatan, menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya. Sementara itu, Lebanon turut terdampak, dengan lebih dari 1.000 korban jiwa akibat serangan udara Israel yang menargetkan kelompok Hizbullah.
Di sektor energi, dampak konflik kian terasa secara global. Iran dilaporkan memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Trump bahkan menyatakan bahwa pengamanan jalur tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara pengguna, bukan Amerika Serikat.
“Selat Hormuz harus dijaga oleh negara-negara lain yang menggunakannya – bukan Amerika Serikat,” tegasnya.
Meski membuka peluang deeskalasi, Trump tidak menutup kemungkinan langkah militer lanjutan. Laporan menyebutkan tambahan ribuan marinir AS tengah dikirim ke kawasan, sementara opsi strategis seperti penguasaan Pulau Kharg—pusat ekspor minyak Iran—masih dipertimbangkan.
Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi regional. Serangan drone dilaporkan menghantam kilang minyak Mina Al-Ahmadi di Kuwait, sementara fasilitas gas di Ras Laffan, Qatar, mengalami kerusakan besar dengan potensi kerugian hingga US$20 miliar per tahun.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski ada sinyal pengurangan operasi militer, konflik di Timur Tengah masih jauh dari kata mereda dan justru berpotensi meluas dengan dampak global yang semakin besar.