• Kamis, 15 Oktober 2026

Timur Tengah Serap 21% Impor Senjata Dunia, AS Jadi Pemasok Utama

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 17 Maret 2026 | 08:09 WIB
Timur Tengah Serap 21% Impor Senjata Dunia, AS Jadi Pemasok Utama
Timur Tengah Serap 21% Impor Senjata Dunia, AS Jadi Pemasok Utama

MAHATVA.ID – Ketegangan geopolitik dan konflik yang terus berlangsung membuat kawasan Timur Tengah tetap menjadi salah satu pasar senjata terbesar di dunia. Arus impor persenjataan ke wilayah ini sangat besar, dengan Amerika Serikat memegang peran dominan sebagai pemasok utama.

Laporan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat bahwa Timur Tengah menyerap sekitar 21 persen dari total impor senjata global pada 2025. Angka tersebut menempatkan kawasan ini sebagai salah satu pusat perdagangan militer terbesar di dunia dalam satu dekade terakhir.

Selama sepuluh tahun terakhir, porsi impor senjata ke Timur Tengah hampir selalu berada di atas seperlima total perdagangan persenjataan global. Kondisi ini mencerminkan tingginya kebutuhan negara-negara kawasan untuk memperkuat kemampuan militernya.

Lonjakan belanja militer di Timur Tengah terjadi seiring meningkatnya ketegangan keamanan. Konflik regional, rivalitas geopolitik, serta kebutuhan modernisasi militer membuat banyak negara di kawasan terus memperbarui arsenal persenjataannya.

Data SIPRI menunjukkan bahwa Amerika Serikat menjadi pemasok senjata terbesar ke Timur Tengah pada periode 2021–2025 dengan pangsa ekspor mencapai 54 persen dari total impor senjata kawasan.

Dominasi tersebut membuat Washington menjadi mitra militer utama bagi sejumlah negara penting di kawasan seperti Arab Saudi, Israel, dan Qatar. Negara-negara ini dikenal sebagai pembeli utama dalam program modernisasi pertahanan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Skala pengadaan senjata oleh negara-negara Timur Tengah juga tergolong sangat besar. Berdasarkan data SIPRI, Uni Emirat Arab membeli lebih dari 13.000 rudal dari Amerika Serikat dalam sepuluh tahun terakhir.

Sementara itu, Arab Saudi tercatat menerima 89 pesawat tempur, lebih dari 150 kendaraan lapis baja, serta sekitar 1.800 rudal dari Washington dalam periode yang sama.

Arus pembelian ini menunjukkan eratnya hubungan militer antara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk. Kontrak pengadaan senjata menjadi bagian penting dari strategi keamanan kawasan dalam menghadapi berbagai ancaman, mulai dari konflik regional hingga rivalitas dengan Iran.

Berbeda dengan negara-negara Teluk yang banyak mengandalkan Barat, Iran memiliki pola impor senjata yang berbeda.

Menurut SIPRI, seluruh impor senjata Iran dalam satu dekade terakhir berasal dari Rusia. Sistem persenjataan yang dibeli mencakup rudal, pesawat militer, serta sistem pertahanan udara.

Ketergantungan tersebut mencerminkan hubungan militer yang semakin erat antara Teheran dan Moskow, terutama setelah Iran menghadapi berbagai sanksi dari negara-negara Barat.

Keterbatasan akses pasar membuat Rusia menjadi mitra utama Iran dalam modernisasi militernya.

Hubungan militer kedua negara juga berjalan dua arah. Data SIPRI menunjukkan sekitar 73 persen ekspor senjata Iran dalam beberapa tahun terakhir justru dikirim ke Rusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X