• Kamis, 22 Oktober 2026

Mahasiswa UI Ciptakan RunSight, Kacamata AI untuk Pelari Tunanetra yang Mendunia

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Jumat, 6 Maret 2026 | 11:13 WIB
Mahasiswa UI Ciptakan RunSight, Kacamata AI untuk Pelari Tunanetra yang Mendunia
Mahasiswa UI Ciptakan RunSight, Kacamata AI untuk Pelari Tunanetra yang Mendunia

JAKARTA, MAHATVA.ID – Inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dari Indonesia kembali mendapat sorotan di tingkat global. Tim Labmino dari Universitas Indonesia berhasil mengembangkan RunSight, kacamata pintar berbasis AI yang dirancang untuk membantu penyandang disabilitas visual berlari dengan lebih aman dan mandiri.

Inovasi tersebut membuat tim Labmino terpilih sebagai Global Ambassador dalam program Samsung Solve for Tomorrow (SFT), sebuah inisiatif dari Samsung Electronics yang bertujuan mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan berbagai tantangan sosial.

-

Teknologi AI untuk Membantu Pelari Tunanetra

RunSight merupakan perangkat wearable berbentuk kacamata pintar yang memanfaatkan teknologi computer vision dan kecerdasan buatan untuk membantu pelari tunanetra tetap berada di lintasan secara aman.

Perangkat ini dilengkapi kamera RGB yang berfungsi menangkap kondisi lintasan di depan pengguna. Data visual tersebut kemudian diproses oleh sistem AI yang mampu:

  • Mengenali garis lintasan

  • Mendeteksi objek di sekitar pelari

  • Memberikan instruksi navigasi secara real-time

Instruksi tersebut disampaikan dalam bentuk audio sehingga pengguna dapat mengetahui arah lari, posisi di lintasan, serta potensi hambatan yang berada di depan mereka.

Secara sederhana, RunSight berfungsi sebagai pemandu virtual bagi pelari tunanetra, yang membaca kondisi lintasan dan memberikan arahan suara secara langsung saat pengguna berlari.

Lahir dari Empati terhadap Kebutuhan Disabilitas

Ide pengembangan RunSight berawal dari riset tim Labmino terhadap teknologi navigasi yang tersedia bagi penyandang tunanetra.

Sebagian besar teknologi navigasi saat ini dirancang untuk aktivitas berjalan, bukan untuk aktivitas dengan kecepatan lebih tinggi seperti berlari.

Padahal olahraga lari cukup populer di kalangan komunitas disabilitas visual, tetapi memiliki risiko tinggi seperti keluar lintasan, kehilangan orientasi arah, atau bertabrakan dengan orang lain.

Melalui berbagai eksperimen dan pendekatan riset, tim Labmino kemudian mengembangkan sistem AI yang mampu membaca lintasan secara cepat dan memberikan panduan navigasi yang stabil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X