• Kamis, 22 Oktober 2026

BRIN Ungkap Penyebab Tanah Amblas di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole, Melainkan Longsoran Bertahap

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Minggu, 22 Februari 2026 | 10:51 WIB
BRIN Ungkap Penyebab Tanah Amblas di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole, Melainkan Longsoran Bertahap
BRIN Ungkap Penyebab Tanah Amblas di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole, Melainkan Longsoran Bertahap

Jakarta, MAHATVA.ID – Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN), Adrin Tohari, mengungkapkan penyebab sebenarnya dari peristiwa tanah amblas yang terjadi di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Adrin, fenomena tersebut bukanlah sinkhole, melainkan longsoran yang terjadi secara bertahap akibat kondisi geologi setempat.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Adrin menjelaskan, berdasarkan citra satelit Google Earth sejak 2010, kawasan tersebut telah menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil. Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung sehingga lembah tersebut semakin melebar dan memanjang hingga membentuk lubang besar seperti yang terlihat saat ini.

Ia menegaskan, fenomena ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan proses geologi yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.

Adrin menduga gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013 turut mempercepat proses ketidakstabilan lereng. Getaran gempa kemungkinan memperlemah struktur tanah dan batuan sehingga memicu longsoran lebih lanjut.

Selain faktor gempa, hujan lebat menjadi pemicu utama runtuhan. Batuan tufa yang rapuh mudah menyerap air hingga jenuh, menyebabkan hilangnya daya ikat dan akhirnya runtuh.

Kemiringan lereng yang semakin curam akibat longsoran sebelumnya juga memperparah kondisi di lapangan.

Adrin juga menyoroti peran air permukaan dari saluran irigasi perkebunan yang diduga mempercepat proses longsor. Air yang mengalir deras dan meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa sehingga semakin tidak stabil.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” jelasnya.

Ia juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah di batas antara lapisan lahar padat di dasar tebing dan batu tufa rapuh di bagian atas. Penggerusan di kaki lereng oleh air tanah dapat menyebabkan bagian atas kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

Menurut Adrin, kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah dengan karakter geologi batuan gunung api muda. Ia mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang terkait aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera dengan karakter batuan serupa.

“Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif,” ujarnya.

Adrin menilai penelitian lanjutan perlu dilakukan menggunakan metode geofisika seperti survei geolistrik, seismik refleksi, dan microtremor guna mengetahui struktur bawah permukaan serta potensi rekahan tanah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X