• Senin, 19 Oktober 2026

Agus Harimurti Yudhoyono: 70 Persen Penduduk Akan Tinggal di Kota, Urbanisasi Tak Bisa Dicegah

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Sabtu, 14 Februari 2026 | 13:39 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono: 70 Persen Penduduk Akan Tinggal di Kota, Urbanisasi Tak Bisa Dicegah
Agus Harimurti Yudhoyono: 70 Persen Penduduk Akan Tinggal di Kota, Urbanisasi Tak Bisa Dicegah

Jakarta, MAHATVA.ID – Urbanisasi menjadi salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi Indonesia dalam beberapa dekade mendatang. Perpindahan penduduk dari desa ke kota diproyeksikan terus meningkat dan kian masif.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyebut sekitar 70 persen masyarakat global, termasuk Indonesia, akan tinggal dan bekerja di kota-kota besar.

“Hari ini kita menghadapi banyak sekali tekanan terhadap lingkungan dan bumi kita. Pertama, urbanisasi. 70 persen masyarakat global dan Indonesia akan berada tinggal bekerja di kota-kota besar, dan urbanisasi tidak bisa kita cegah begitu saja,” ujar AHY dalam Rapat Koordinasi Ruang Terbuka Hijau di Tebet Eco Park, Jumat (13/2/2026).

Tekanan Kota: Air, Infrastruktur hingga Kesehatan Mental

AHY menjelaskan, arus urbanisasi membawa konsekuensi serius bagi kawasan perkotaan. Mulai dari keterbatasan ketersediaan air bersih, kepadatan penduduk, hingga infrastruktur jalan yang sulit diperluas sehingga memicu kemacetan.

Menurutnya, tekanan hidup di kota besar juga berkontribusi terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental.

“Sering kita mendengar sekarang mental health issues. Jangan-jangan dan bisa hampir dipastikan ini juga karena stres menghadapi tantangan di kota-kota besar,” tuturnya.

Perubahan Iklim Bukan Hoaks

Dalam kesempatan itu, AHY juga menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan realitas yang sudah terjadi dan berdampak luas. Ia menekankan pentingnya langkah konkret untuk mengurangi emisi karbon, termasuk melalui percepatan elektrifikasi.

Dampak perubahan iklim, kata dia, bisa sangat serius. Kekeringan berpotensi menyebabkan krisis pangan dan kelaparan, sementara banjir besar dapat menimbulkan korban jiwa serta kerusakan material dalam skala luas.

Ruang Publik Kian Mendesak

Di tengah tekanan urbanisasi dan krisis iklim, kebutuhan akan ruang publik semakin mendesak. AHY menilai ruang terbuka hijau bukan sekadar estetika kota, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat.

“Masih banyak lagi yang sangat berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Kebutuhan ruang publik makin mendesak. Padahal kita ingin anak cucu kita tumbuh dengan baik, bukan hanya sehat raganya tapi juga jiwanya,” tutup AHY.

Urbanisasi yang tak terhindarkan menuntut perencanaan kota yang berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan iklim, agar pertumbuhan kota tidak justru menjadi beban bagi generasi mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X