Kelompok ini diduga menyulut kerusuhan, termasuk membakar pusat perbelanjaan seperti Yogya Department Store di Jakarta Timur. Setelah kerusuhan terjadi, mereka menghilang tanpa jejak.
Korban Jiwa dan Kerusakan Massal
Menurut data Tim Relawan untuk Kemanusiaan, kerusuhan Mei 1998 menyebabkan 1.217 orang tewas di Jakarta, mayoritas akibat terbakar hidup-hidup. Data versi Polri lebih rendah, mencatat 451 korban jiwa. Di luar Jakarta, puluhan korban jiwa dan ratusan luka-luka juga dilaporkan.
Kerusuhan ini menjadi tragedi kemanusiaan terbesar pasca-kemerdekaan yang mengguncang sendi sosial bangsa.
Akhir Era Soeharto dan Awal Reformasi
Puncak krisis politik terjadi pada 21 Mei 1998, ketika Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Wakil Presiden BJ Habibie kemudian diangkat sebagai penggantinya. Pengunduran diri ini disambut suka cita jutaan rakyat Indonesia dan menjadi simbol dimulainya era Reformasi Indonesia.
Namun, jalan menuju reformasi harus dibayar mahal dengan nyawa ribuan warga sipil, luka fisik dan psikis mendalam, serta hancurnya persatuan sosial akibat kekerasan etnis dan pelanggaran HAM.
Kesimpulan: Pentingnya Mengingat dan Mengadili
Peristiwa Mei 1998 harus menjadi pengingat sejarah nasional bahwa demokrasi dan keadilan sosial tidak datang dengan mudah. Hingga kini, banyak korban dan keluarga korban masih menunggu keadilan yang belum kunjung ditegakkan secara utuh. Bangsa Indonesia dituntut untuk tidak melupakan, agar tragedi serupa tidak terulang kembali.