• Jumat, 16 Oktober 2026

Mafia Timah dan Diamnya Lanal Babel: Ketika Amanat Presiden Prabowo Diabaikan

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 9 Juni 2025 | 17:39 WIB
Mafia Timah dan Diamnya Lanal Babel: Ketika Amanat Presiden Prabowo Diabaikan
Mafia Timah dan Diamnya Lanal Babel: Ketika Amanat Presiden Prabowo Diabaikan

Opini oleh: Rikky Fermana, S.IP., C.Med, C.Par, C.NG, C.IJ, C.PW

MAHATVA.ID -Negeri ini dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, namun ironisnya, justru menjadi surga bagi praktik rente, mafia, dan jaringan penyelundupan yang kian terstruktur. Di Kepulauan Bangka Belitung, kasus penyelundupan 47 ton pasir timah yang digagalkan di Muara Pelabuhan Pangkal Balam menjadi bukti telanjang: mafia masih bercokol, dan lembaga keamanan yang seharusnya menjadi penghalangnya justru memilih diam.

Penyelundupan Timah Pangkal Balam: Prestasi atau Sandiwara?

Penangkapan kapal KM Indah Jaya GT 34 oleh Pangkalan TNI AL Babel pada Jumat, 30 Mei 2025, sempat dianggap sebagai bentuk keberhasilan aparat dalam menjaga kedaulatan sumber daya maritim Indonesia.

Namun semakin hari, publik justru digiring pada kegamangan: siapa sebenarnya aktor utama di balik operasi ilegal ini? Mengapa pihak Lanal Babel tidak mengungkap identitas pemilik pasir timah yang diduga akan dikirim ke Singapura?

Ketiadaan transparansi membuka ruang spekulasi dan meruntuhkan kepercayaan publik terhadap lembaga negara yang seharusnya menjadi perisai pertahanan laut dan pelindung kekayaan nasional.

Rantai Mafia Timah: Terlihat, Tapi Tak Terjamah

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan bahwa pasir timah tersebut diduga milik seorang berinisial SY, pemain lama asal Banten yang dikenal dalam pusaran bisnis ilegal timah dan juga jaringan ekspor baby lobster ilegal. dua komoditas laut strategis yang kerap jadi sasaran penyelundupan lintas negara.

Nama lain yang disebut adalah SB, oknum aparat yang diduga ikut menyelamatkan Anak Buah Kapal (ABK) agar lolos dari operasi. Sementara kapal pengangkutnya disebut milik RM, warga Pangkalpinang yang kerap terlibat dalam pengambilan minyak kencingan dari kapal tanker di tengah laut.

Semua elemen ini membentuk struktur sindikat, namun tak satu pun disentuh secara terbuka. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada penjelasan rinci. Hanya bantahan samar dari Danlanal yang semakin mengaburkan fakta.

Sikap Bungkam Lanal Babel: Netralitas atau Keterlibatan?

Ketika Kolonel Laut (P) Ipul Saeful, Komandan Lanal Babel, menyatakan bahwa tidak ada oknum aparat yang terlibat dan menyebut jumlah muatan tidak mencapai 47 ton, banyak yang bertanya: mengapa justru informasi yang beredar di lapangan, termasuk video pemindahan barang bukti secara diam-diam pada malam hari, memperlihatkan kehadiran langsung personel Lanal dan POMAL?

Jika tidak ada yang perlu disembunyikan, mengapa proses hukum dijalankan secara tertutup? Mengapa publik tidak diberi akses terhadap informasi yang menyangkut potensi kerugian negara miliaran rupiah?

Amanat Presiden Prabowo Dikhianati?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X