• Senin, 19 Oktober 2026

Trump Tiba-Tiba Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran, Ternyata karena Harga Minyak?

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 26 Juni 2025 | 12:09 WIB
Trump Tiba-Tiba Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran, Ternyata karena Harga Minyak?
Trump Tiba-Tiba Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran, Ternyata karena Harga Minyak?

MAHATVA.ID – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran pada Selasa (25/6/2025). Padahal, hanya beberapa hari sebelumnya, AS melakukan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran yang dibalas oleh Teheran dengan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Qatar.

Langkah Trump ini menimbulkan pertanyaan besar di dunia internasional: apa alasan sebenarnya di balik keputusan mendadak ini?

Harga Minyak Jadi Alasan Utama?

Dilansir CNBC International, usai serangan terhadap Iran, Trump langsung menuntut agar semua pihak berupaya menjaga harga minyak tetap rendah. Dalam unggahan emosional di platform miliknya, Truth Social, Trump menulis:

“SEMUA ORANG, JAGA HARGA MINYAK TETAP TURUN. SAYA MENGAWASI! KALIAN BERMAIN TEPAT DI TANGAN MUSUH. JANGAN LAKUKAN ITU!”

Meskipun tidak menyebut secara spesifik siapa yang dimaksud, Trump kemungkinan besar menyindir industri minyak AS agar tidak mengurangi produksi. Pasalnya, sejumlah perusahaan sebelumnya telah mengindikasikan akan memangkas produksi setelah harga anjlok akibat kebijakan tarif dan kelebihan pasokan OPEC+.

Tak lama setelah itu, Trump kembali mengunggah seruan:

“Kepada Departemen Energi: BOR, SAYANG, BOR!!! Dan maksud saya SEKARANG!!!”

Namun, kenyataannya, Departemen Energi AS tidak secara langsung mengatur pengeboran minyak — kebijakan tersebut berada di tangan perusahaan swasta dan tergantung pada mekanisme pasar.

Kekhawatiran Inflasi Memuncak

Naiknya harga minyak mentah global akibat ketegangan di Timur Tengah bisa berdampak langsung pada inflasi domestik AS. Data terbaru menunjukkan inflasi AS naik menjadi 2,40% pada Mei 2025, dari sebelumnya 2,30% di April. Bahkan, Trading Economics memproyeksikan inflasi bisa mencapai 2,80% pada akhir kuartal ini, yang tentu menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dalam negeri.

Trump sendiri telah berulang kali mengkritik Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell, karena tidak segera menurunkan suku bunga. Saat ini, suku bunga acuan AS berada di kisaran 4,25%-4,5%, dan The Fed memilih untuk menunggu dampak dari kebijakan-kebijakan ekonomi Trump sebelum mengambil langkah pemangkasan.

Stabilitas Ekonomi Jadi Prioritas

Langkah Trump menghentikan eskalasi konflik militer diduga kuat didasari pada kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dan potensi inflasi, yang bisa berdampak buruk pada daya beli masyarakat serta popularitas politiknya menjelang pemilu.

“Seperti yang dikatakan Presiden, produsen harus menjaga harga minyak tetap rendah atau berisiko bermain di tangan musuh,” ujar juru bicara Gedung Putih, Harrison Fields.

Gencatan senjata ini menandai pergeseran strategi dari pendekatan militer ke fokus ekonomi — sebuah langkah tak terduga dari presiden yang dikenal agresif dalam kebijakan luar negeri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X