MAHATVA.ID – Di saat negara eksportir besar seperti Peru dan Meksiko menghadapi tekanan tarif dagang, Indonesia justru melangkah strategis dalam peta tembaga global. Proyeksi lonjakan harga tembaga hingga US$5,44 per pon pada 2026 (Bank of America) dan konsumsi global mencapai 25,88 juta ton tahun ini (ICSG) membuka peluang besar bagi Indonesia.
Ekspor Tembaga RI Aman dari Tarif AS
Menurut data Satudata Kemendag, sepanjang Januari–April 2024 Indonesia telah mengekspor:
Bijih tembaga senilai US$2,26 miliar
Produk tembaga dan turunannya sebesar US$781 juta
Sebagian besar ekspor itu mengalir ke China dan Asia, bukan AS, sehingga beban tarif AS tidak jadi ancaman langsung, bahkan membuka potensi RI mengisi kekosongan pasokan global.
Kontribusi pada Penerimaan Negara
Bea keluar tembaga melonjak tajam:
Rp14,6 triliun di semester I 2025 (naik 327,6% dari target)
Tumbuh 80,4% secara tahunan
Walaupun CPO masih dominan, pemerintah menegaskan bahwa relaksasi ekspor tembaga juga berkontribusi signifikan terhadap lonjakan ini.
Cadangan Besar, Smelter Kuat, Pasar Terlindungi
Berdasarkan data USGS 2020 dan Kementerian ESDM:
Cadangan logam tembaga RI: 24 juta ton (3% cadangan global)
Cadangan bijih tembaga nasional: 2,63 miliar ton
Produksi tahunan: 100 juta ton
Didukung oleh smelter tembaga terbesar di Asia Tenggara dan pasar yang relatif aman dari konflik dagang, Indonesia punya peluang strategis naik kelas menjadi pemasok tembaga global jangka panjang.