Kutai Barat – MAHATVA.ID
Lamin Mancong, rumah panjang ikonik milik masyarakat Dayak Benuaq di Desa Mancong, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, kembali menjadi sorotan. Bukan karena bentuk fisiknya semata, tetapi karena filosofi mendalam yang tersimpan di dalamnya, yang sukses membuat seorang wisatawan asal Jerman terkesima.
Dalam kunjungan wisata budaya yang digelar Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Kamis (10/07/2025), Hans (61)—turis asal Jerman—menyampaikan kekagumannya terhadap nilai historis dan kearifan lokal yang dipelajari dari rumah adat Lamin Mancong.
"Aku suka filosofinya. Bangunan ini adalah guru terbaik. Ia adalah nilai yang tidak ku dapatkan di setiap perjalanan wisataku. Ia menyimpan banyak nilai kehidupan. Dari seni, sosial, dan budaya," ujar Hans penuh kagum saat berdiri di depan Lamin Mancong.
Lebih dari Sekadar Bangunan: Jantung Kehidupan Masyarakat Dayak
Lamin Mancong bukan sekadar tempat tinggal, tapi merupakan pusat kehidupan sosial, spiritual, dan budaya masyarakat Dayak Benuaq. Dibangun pada tahun 1920 oleh Temenggung Bank (Kakah Biru), bangunan seluas 1.005 meter persegi ini dipercaya sebagai payung leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di halaman depan Lamin, berdiri tegak patung-patung khas suku Dayak yang menggambarkan kerbau-kerbau persembahan dalam ritual Kuangkai—ritual penghormatan kepada arwah leluhur yang dianggap berjasa. Patung-patung ini menandai jumlah kerbau yang disembelih dalam upacara tersebut, dan tengkorak-tengkoraknya masih tersimpan di dalam rumah sebagai bukti warisan leluhur yang hidup.
Simbolisme dalam Ukiran dan Arsitektur
Lamin Mancong menyambut setiap tamu dengan ukiran khas Dayak yang sarat makna: