• Jumat, 23 Oktober 2026

Wamendagri Bima Arya Dorong Diferensiasi Ekonomi Kreatif untuk Majukan Pariwisata Nasional

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 13 Oktober 2025 | 14:54 WIB
Wamendagri Bima Arya Dorong Diferensiasi Ekonomi Kreatif untuk Majukan Pariwisata Nasional
Wamendagri Bima Arya Dorong Diferensiasi Ekonomi Kreatif untuk Majukan Pariwisata Nasional

Tangerang, MAHATVA.ID — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan pentingnya diferensiasi dalam pengembangan ekonomi kreatif sebagai kunci kemajuan sektor pariwisata nasional.

Menurutnya, setiap daerah di Indonesia memiliki potensi dan identitas yang unik, sehingga perlu dikelola secara kreatif agar tidak tenggelam dalam keseragaman branding antarwilayah.

“Banyak destinasi wisata tersembunyi di Indonesia yang bisa berkembang pesat jika kepala daerah memiliki semangat dan komitmen dalam mengelola potensi lokalnya,” ujar Bima Arya saat menyampaikan pidato kunci di ajang The Top Tourism Leaders Forum, yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten, Minggu (12/10/2025).

Bima menekankan pentingnya city branding yang kuat dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Dengan 514 kabupaten/kota di Indonesia, katanya, harusnya ada 514 potensi, 514 identitas, dan 514 karakter daerah.

“Citra daerah tidak boleh stagnan hanya karena terus menggunakan tagline yang sama atau meniru daerah lain,” ujar mantan Wali Kota Bogor itu.

Ia juga mengajak para pemimpin daerah dan pelaku industri kreatif untuk berkolaborasi memperkuat citra pariwisata melalui konsep branding yang autentik.
“City branding ini adalah citra. Karena itu, tolong bantu para kepala daerah dan dinas pariwisata agar lebih memahami makna branding dalam membangun destinasi yang kuat,” tutur Bima.

Dalam forum tersebut, Wamendagri membagikan pengalamannya saat membangun city branding Kota Bogor pada 2018. Ia mencontohkan kawasan Mulyaharja, yang awalnya merupakan salah satu kelurahan termiskin di Bogor, kini menjelma menjadi destinasi wisata unggulan berkat keterlibatan warga.

“Kita bekerja keras melibatkan masyarakat, terutama ibu-ibu dan anak muda. Mereka dilatih menjadi pemandu wisata, membangun komunitas kreatif, hingga menciptakan sistem ekonomi sendiri. Kini setiap akhir pekan kawasan itu ramai pengunjung,” ungkapnya.

Bima mengatakan, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa membangun ekosistem pariwisata membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan ketekunan dalam mengatasi hambatan struktural, kultural, dan infrastruktur.

Selain wisata alam dan budaya, Bima juga menyoroti pentingnya sport tourism sebagai penggerak ekonomi lokal. Ia mencontohkan pembangunan jogging track sepanjang 4,3 kilometer di sekitar Istana dan Kebun Raya Bogor, yang kini ramai dimanfaatkan warga dan wisatawan.

“Inisiatif seperti jogging track bukan hanya untuk olahraga, tapi juga menumbuhkan ekonomi pelaku usaha kecil di sekitarnya,” jelasnya.

Bima menutup paparannya dengan ajakan agar seluruh kepala daerah berani berinovasi dan tidak sekadar mengikuti tren pariwisata daerah lain.
“Setiap kota dan kabupaten harus punya DNA sendiri. Di situlah kekuatan pariwisata Indonesia sesungguhnya,” tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X