BANDUNG, MAHATVA.ID — Gedung Merdeka di Kota Bandung bukan sekadar bangunan bersejarah. Gedung yang menjadi lokasi Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 ini menyimpan perjalanan panjang sejarah kolonialisme, perkembangan sosial dan budaya Bandung, hingga perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam membangun perdamaian dunia.
Namun, sejarah Gedung Merdeka tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan KAA. Jauh sebelum menjadi simbol diplomasi internasional Indonesia, bangunan tersebut merupakan bagian dari kehidupan kaum elite Eropa di Bandung dan telah mengalami berbagai perubahan fungsi dari masa ke masa.
Untuk mengungkap perjalanan panjang tersebut, Museum Konferensi Asia Afrika (Museum KAA) bersama Bandung Heritage menggelar pameran foto sejarah bertajuk “Gedung Merdeka dan Diplomasi Perdamaian Dunia” di Gedung Merdeka, Bandung, pada 11 Maret 2023.
Baca Juga: Prabowo Pimpin Sidang DEN, Bahas Stok BBM dan Kemandirian Energi Nasional
Pameran ini menghadirkan dokumentasi foto dan informasi sejarah yang mengajak masyarakat menelusuri perubahan Gedung Merdeka, mulai dari masa kolonial hingga perannya dalam diplomasi perdamaian dunia.
Kepala Museum KAA, Dahlia Kusuma Dewi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mengajak masyarakat menjaga kelestarian Gedung Merdeka sebagai bangunan cagar budaya sekaligus sarana pendidikan dan pariwisata.
“Kami ingin mengajak masyarakat semuanya, khususnya di Kota Bandung ini dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk turut serta melestarikan gedung ini sebagai salah satu gedung cagar budaya, yang tidak hanya bangunannya saja tapi juga pemanfaatannya untuk pelestarian sejarah, dan tentunya di bidang pendidikan, dan pariwisata khususnya,” ujar Dahlia.
Baca Juga: Program B50 Didorong Berjalan, ASPEBINDO Minta Pemerintah Bangun Neraca Bahan Baku Nasional
Awal Sejarah Gedung Merdeka dan Perkebunan Priangan
Sejarah Gedung Merdeka tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekonomi perkebunan di kawasan Priangan pada masa kolonial Belanda.
Pada abad ke-18, melalui kebijakan Preangerstelsel, masyarakat pribumi diwajibkan menanam kopi. Pada 1789, Pieter Engelhard membuka perkebunan kopi di kawasan Tangkuban Perahu. Selain kopi, kina dan teh juga menjadi komoditas penting yang mendorong perkembangan ekonomi perkebunan di wilayah Bandung.
Kekayaan yang dihasilkan dari perkebunan melahirkan kelompok pemilik perkebunan Eropa yang dikenal sebagai Preanger Planters. Kelompok ini memiliki pengaruh ekonomi besar dan membentuk kehidupan sosial elite Eropa di Bandung.