berita

Bahasa Tafulu Jadi Jembatan Budaya dan Literasi, Pelajar Tanimbar Utara Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten ‎

Rabu, 23 September 2026 | 01:50 WIB
Bahasa Tafulu Jadi Jembatan Budaya dan Literasi, Pelajar Tanimbar Utara Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten ‎

Larat,MAHATVA.ID -Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di Tanimbar Utara, kemampuan berkomunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur budaya lokal dengan kecakapan generasi muda menghadapi dunia yang semakin terbuka.
‎
‎Semangat itu terlihat dalam Perlombaan Bahasa Tafulu yang digelar di SMP Negeri 1 Tanimbar Utara, Senin (21/9/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah bersama Pemerintah Kecamatan Tanimbar Utara.
‎
‎Mengusung semangat “Tugu Empat Serangkai”, perlombaan ini tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan berbahasa. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal, memahami, dan menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal Tanimbar melalui literasi.
‎

Para peserta ditantang memperkuat penguasaan bahasa Indonesia yang berlandaskan filosofi Tafulu, sekaligus meningkatkan kecakapan berbahasa Inggris sebagai bekal membangun interaksi di tingkat global.

‎Larat Ukir Prestasi

‎‎Dalam perlombaan tersebut, SD Theresia Larat dan SMP St. Dominicus Savio Larat berhasil meraih posisi terbaik pada jenjang masing-masing.
‎
‎Reinard Sainuka, siswa SD Theresia Larat, dan Crisya Mayota D. Lamere, siswa SMP St. Dominicus Savio Larat, tampil di hadapan dewan juri dan berhasil menunjukkan kemampuan mereka dalam mengolah bahasa sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan nilai budaya Tanimbar.
‎
‎Keduanya membawa semangat Tugu Empat Serangkai, yang dalam kegiatan tersebut dikaitkan dengan nilai kebersamaan, persatuan, gotong royong, dan kepedulian sosial.
‎
‎Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan literasi generasi muda.
‎
‎Bahasa sebagai Jalan, Karakter sebagai Penuntun
‎

-

Pengajar sekaligus pengampu urusan kesiswaan SMP St. Dominicus Savio Larat, Fransina E. Rumfaan, S.Pd., mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari proses pembinaan karakter dan literasi yang dilakukan secara konsisten.

‎Menurutnya, kemampuan berbahasa harus berjalan bersama dengan pembentukan karakter agar generasi muda tidak hanya mampu berbicara dengan baik, tetapi juga memahami nilai yang terkandung dalam budaya mereka.
‎
‎“Sebagai tunas-tunas muda yang mengalir dalam darahnya semangat Kapitan Pattimura, anak-anak kita dituntut tidak hanya fasih bicara, tetapi harus mampu 'menghidupkan' nilai Tafulu dalam perilaku sehari-hari. Bahasa adalah kendaraan, namun karakter adalah penuntun arahnya,” ujar Fransina.
‎
‎Momentum kegiatan tersebut juga disebut memiliki makna tersendiri karena berlangsung menjelang peringatan HUT Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
‎
‎Wakili Tanimbar Utara ke Tingkat Kabupaten
‎
‎Prestasi Reinard dan Crisya belum menjadi garis akhir. Keduanya kini akan membawa nama Kecamatan Tanimbar Utara untuk mengikuti perlombaan pada tingkat Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
‎
‎Ajang tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk memperluas pengalaman, meningkatkan kemampuan literasi, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
‎
‎Perlombaan Bahasa Tafulu pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang meraih juara. Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan pentingnya pendidikan yang mampu mempertemukan kearifan lokal, literasi, karakter, dan kecakapan global.
‎
‎Dari Tanimbar Utara, semangat tersebut diharapkan terus tumbuh. Generasi muda tidak hanya dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga tetap mengenal akar budaya yang membentuk identitas mereka.
‎
‎Bahasa menjadi jembatan. Literasi menjadi bekal. Budaya menjadi akar. Dan generasi muda menjadi penghubungnya menuju masa depan.

Terkini