Tangerang,MAHATVA.ID -Langit cerah di kawasan Tangerang Raya berubah drastis menjadi kelabu pekat pada Minggu pagi. Abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau melayang ratusan kilometer dan menyelimuti permukiman padat penduduk di Banten, termasuk Tangerang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kondisi ini bersifat dinamis dan meminta warga untuk waspada serta membatasi aktivitas di luar ruangan.
Langit Berubah Kelabu, Bukan Polusi Biasa
Apa yang terlihat seperti kabut tebal di atas kota Tangerang pada Minggu pagi bukanlah polusi perkotaan, melainkan sebaran abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda.
Partikel halus itu terbawa angin hingga menempuh jarak ratusan kilometer, menutupi langit di kawasan padat penduduk Banten, DKI Jakarta, hingga sebagian Jawa Barat.
Fenomena ini bukan sekadar gangguan pemandangan. Ini menjadi peringatan nyata bahwa dampak letusan gunung berapi dapat melintasi batas wilayah administrasi dan menimbulkan risiko bagi masyarakat luas.
Partikel Tajam Berbahaya Bagi Pernapasan & Mata
Bagi mata biasa, abu vulkanik tampak seperti debu biasa. Namun secara ilmiah, partikel ini terdiri dari serpihan kaca mikroskopis dan pecahan batuan yang tajam. Jika terhirup, dapat menggores saluran pernapasan dan memperberat kerja paru-paru. Kontak langsung dengan mata juga dapat memicu iritasi berat.
Melalui pantauan satelit Himawari-9, BMKG mencatat pergerakan abu vulkanik berlangsung dinamis. Di ketinggian hingga 20.000 kaki, angin membawa abu ke arah timur laut menyapu Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Sementara di lapisan atmosfer lebih tinggi, aliran udara mengarah ke Lampung dan Bengkulu.
"Kondisi ini sangat dinamis. Wilayah terdampak dapat berubah dalam hitungan jam bergantung pada pola angin. Area yang hari ini tampak aman, belum tentu sama dalam beberapa jam ke depan," ungkap pernyataan resmi BMKG, di langsir dari mediaistana. com.,Mimggu (6/9/2026)
Bandara Soekarno-Hatta Terimbas, Ratusan Penerbangan Terganggu
Dampak paling langsung dirasakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ratusan penerbangan dilaporkan mengalami penundaan maupun pembatalan.
Keputusan ini bukan tanpa alasan-abu vulkanik merupakan ancaman fatal bagi keselamatan pesawat. Partikel halus dapat meleleh di dalam turbin mesin yang panas, membeku kembali, dan menyebabkan kegagalan mesin di udara.
Oleh karena itu, pembatasan operasi penerbangan adalah langkah pencegahan demi keselamatan jiwa. Para pelancong diimbau untuk selalu mengecek status penerbangan sebelum berangkat ke bandara.
Pemerintah Kota Tangerang melalui BPBD Kota Tangerang menegaskan bahwa wilayah Tangerang tidak masuk dalam radius bahaya letusan langsung. Tidak ada ancaman lava maupun awan panas. Namun, abu vulkanik yang terbawa udara tetap berisiko bagi kesehatan.