berita

BBRI Tahan Lebih Banyak Laba, Target ROE Kembali ke 20%

Rabu, 2 September 2026 | 08:15 WIB
BBRI Tahan Lebih Banyak Laba, Target ROE Kembali ke 20%

JAKARTA, MAHATVA.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mulai menggeser strategi penggunaan laba bersih dengan memberikan porsi lebih besar terhadap penguatan modal dan pertumbuhan bisnis jangka panjang. Perubahan strategi tersebut berpotensi membuat dividend payout ratio (DPR) BBRI turun secara bertahap dari level tinggi sebelumnya.

Pada tahun buku 2025, rasio pembayaran dividen BRI tercatat mencapai sekitar 92%. Ke depan, rasio tersebut diindikasikan dapat diturunkan secara gradual menuju kisaran 60%.

Perubahan kebijakan tersebut menjadi perhatian investor, khususnya pemegang saham BBRI yang selama ini menjadikan saham bank tersebut sebagai dividend stock atau yield play.

Penurunan DPR berpotensi mengurangi besaran laba yang dibagikan kepada pemegang saham dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain, semakin besar laba yang ditahan (retained earnings) dapat memberikan ruang lebih luas bagi BRI untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi kredit.

BBRI Prioritaskan Penguatan Modal

Pergeseran kebijakan dividen tersebut mencerminkan upaya BRI untuk menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan mempertahankan kapasitas pertumbuhan bisnis.

Dengan menahan porsi laba yang lebih besar, BRI memiliki tambahan sumber modal internal yang dapat digunakan untuk mendukung ekspansi kredit, memperkuat capital buffer, serta meningkatkan kapasitas bisnis dalam jangka panjang.

Bagi investor yang berorientasi pada pendapatan dividen, penurunan DPR tentu menjadi sentimen yang perlu diperhatikan. Namun, bagi investor dengan perspektif jangka panjang, peningkatan laba ditahan dapat membuka ruang bagi pertumbuhan aset dan profitabilitas perseroan.

Laba Bersih BRI Tumbuh 17,5%

Dari sisi kinerja keuangan, BRI mencatatkan laba bersih Rp31,18 triliun, meningkat 17,5% secara tahunan (YoY) dibandingkan Rp26,53 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut turut ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII).

NII BRI meningkat 9,9% YoY menjadi Rp80,53 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga mengalami penurunan 5,9% YoY menjadi Rp27,39 triliun.

Kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan penurunan beban bunga tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menopang profitabilitas perseroan.

Total Aset BRI Capai Rp2.352 Triliun

Pertumbuhan bisnis BRI juga tercermin dari peningkatan total aset. Hingga periode laporan tersebut, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% YoY.

Kredit dan pembiayaan menjadi salah satu kontributor utama terhadap pertumbuhan aset perseroan.

Ekspansi kredit yang lebih agresif diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan BRI. Namun, pertumbuhan kredit juga perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko dan kualitas aset yang kuat.

Halaman:

Terkini