JAKARTA, MAHATVA.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mendapat tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Rupiah bergerak melemah menuju kisaran Rp17.744 hingga Rp17.765 per dolar AS, seiring lonjakan harga minyak mentah dunia akibat kembali memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk serangan AS terhadap target di Pulau Larak serta gangguan terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, menjadi perhatian investor.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia bergerak naik. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Indonesia masih berada dalam posisi sebagai net importer minyak, sehingga kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk membayar impor energi.
Ketika harga minyak meningkat, nilai impor energi Indonesia juga berpotensi membesar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik karena kebutuhan pembayaran impor dilakukan dalam mata uang dolar.
Tekanan terhadap rupiah kemudian dapat semakin kuat apabila sentimen negatif di pasar keuangan global meningkat.
Lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi memberikan dampak terhadap inflasi domestik melalui mekanisme imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang dan komoditas impor.
Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Apabila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, tekanan tersebut berpotensi diteruskan ke harga berbagai barang dan jasa di dalam negeri.
Selain inflasi, peningkatan nilai impor minyak juga dapat memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan atau current account Indonesia.
Gejolak geopolitik juga meningkatkan kecenderungan investor global untuk menerapkan strategi risk-off. Dalam kondisi tersebut, investor biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap lebih aman.
Dolar AS menjadi salah satu aset yang banyak diminati ketika ketidakpastian global meningkat. Penguatan permintaan terhadap dolar tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran serta harga minyak dunia, investor juga mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak global.
Karena itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pasar keuangan. Semakin tinggi risiko gangguan pasokan energi, semakin besar pula potensi volatilitas harga minyak dan pasar valuta asing.