MAHATVA.ID -Di tengah heningnya Desa Wunla, Kecamatan Wuarlabobar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara, lebih berat dari peti jenazah yang baru saja dibuka.
Jumat (28/8/2026) seharusnya menjadi hari perpisahan terakhir bagi keluarga Pratu Samuel Ebet Wuarlela, prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia yang gugur di tugas. Namun, prosesi persemayaman militer yang penuh hormat itu berubah menjadi momen kebingungan dan duka yang mendalam.
Saat lapisan plastik pembungkus jenazah disingkap, keluarga tidak hanya melihat wajah anak mereka, tetapi juga serangkaian luka fisik yang bertentangan dengan narasi "kecelakaan lalu lintas" yang selama ini disampaikan.
Kini, bola panas bergulir ke meja Panglima TNI. Keluarga tidak meminta belas kasihan; mereka meminta kebenaran.
Tujuh Lapis Plastik dan Darah yang Tak Terjelaskan
Salah satu temuan paling mencengangkan adalah prosedur penanganan jenazah. Keluarga menemukan tubuh Pratu Samuel dibungkus rapat dengan hingga tujuh lapis plastik sebelum dimasukkan ke dalam peti kayu. Ketika lapisan-lapisan itu dibuka, jejak darah masih terlihat jelas pada tubuh almarhum.
"Kami heran. Mengapa harus dibungkus sedemikian rupa? Apakah ini prosedur standar evakuasi jarak jauh dari perbatasan Kalimantan ke Maluku? Atau ada sesuatu yang ingin disembunyikan?" tanya seorang anggota keluarga dengan suara bergetar.
Bagi awam, bungkus plastik mungkin terlihat sebagai upaya higienis. Namun, bagi keluarga yang sedang berduka, ketiadaan penjelasan transparan mengenai alasan pembungkusan berlapis-lapis tersebut memicu kecurigaan bahwa proses evakuasi dan otopsi awal mungkin tidak dilakukan sesuai protokol medis forensik yang ketat.
Anatomi Luka: Benturan atau Irisan?
Narasi resmi menyebut Pratu Samuel meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di wilayah Desa Long Api, Krayan, Nunukan. Namun, mata telanjang keluarga melihat cerita berbeda pada tubuh almarhum.
Terdapat luka signifikan pada bagian kepala dan pelipis mata kanan, memar gelap di pergelangan tangan, serta lecet pada tangan. Yang paling mengganjal adalah karakteristik luka di kepala yang, menurut pengamatan keluarga, tampak lebih mirip irisan benda tajam atau benturan terarah, bukan sekadar dampak benturan acak dalam kecelakaan motor.
"Jika ini kecelakaan, kami minta buktinya. Tunjukkan hasil visum et repertum. Tunjukkan foto TKP. Jangan biarkan kami menebak-nebak apakah anak kami meninggal karena nasib buruk atau sebab lain," tegas perwakilan keluarga.
Keluarga menegaskan, mereka tidak serta-merta menuduh adanya tindak pidana. Namun, ketidakkonsistenan antara kondisi fisik jenazah dengan kronologi kecelakaan menuntut verifikasi independen.
Tanpa otopsi forensik yang komprehensif dan dapat diakses oleh pihak keluarga melalui ahli medis kepercayaan mereka, kesimpulan "kecelakaan" akan tetap menjadi tanda tanya besar.