“Tantangan utama industri sawit adalah membuktikan tata kelola yang bermanfaat bagi masyarakat. Dunia sangat membutuhkan kelapa sawit karena ini adalah minyak nabati paling produktif,” ujar Akhmad Munir.
Ia menegaskan, pers tetap harus menjalankan fungsi kontrol secara kritis terhadap industri, termasuk dalam mengawal penerapan good corporate governance.
Namun, pemberitaan juga perlu memberikan gambaran yang utuh mengenai kontribusi industri sawit terhadap masyarakat dan perekonomian nasional.
“Pers harus mengedepankan kepentingan nasional dengan mendukung industri kelapa sawit yang ramah lingkungan, sehat bagi tenaga kerja, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Guru Besar Universitas Jember, Prof. Dr. Ermanto Fahamsyah, turut menyoroti besarnya kontribusi kelapa sawit bagi Indonesia.
Ia menyebut kelapa sawit sebagai salah satu komoditas strategis yang memberikan manfaat terhadap penerimaan devisa, penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan, hingga ketahanan energi nasional.
“Sawit adalah anugerah. Kita harus bersyukur karena komoditas ini memberi kontribusi besar bagi devisa, lapangan kerja, dan ketahanan pangan serta energi nasional,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi memastikan seluruh potensi tersebut dikelola melalui tata kelola yang baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Senada, Ekonom Senior INDEF sekaligus President of ASAE, Prof. Dr. Bustanul Arifin, menekankan pentingnya memperkuat sektor hulu, khususnya perkebunan rakyat.
Menurut Bustanul, peningkatan daya saing sawit Indonesia ke depan membutuhkan peremajaan perkebunan rakyat, pengurangan yield gap, percepatan sertifikasi keberlanjutan, serta penguatan kemitraan antara petani, BUMN, dan perusahaan swasta.
“Sawit berkelanjutan adalah keniscayaan nasional, bukan sekadar respons atas desakan luar negeri,” katanya.
Ia menilai strategi tersebut semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik dan semakin ketatnya aturan perdagangan global.
Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, Agus Sudibyo, menambahkan bahwa kebebasan pers harus tetap berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap kepentingan nasional.
Menurutnya, media tetap harus kritis terhadap persoalan yang terjadi di industri kelapa sawit. Namun, pemberitaan juga tidak boleh mengabaikan posisi strategis sawit sebagai salah satu pilar perekonomian Indonesia.
Ia menyebut setidaknya terdapat sejumlah kontribusi strategis industri sawit, mulai dari penyumbang devisa nonmigas, penyerap tenaga kerja, penggerak ekonomi daerah, pendukung ketahanan energi melalui biodiesel, hingga penyedia bahan baku minyak nabati dan industri pangan.