berita

Tabir Gelap Kematian Pratu Samuel di Perbatasan: Keluarga Tuntut Panglima TNI Usut Dugaan Kejanggalan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:13 WIB
Tabir Gelap Kematian Pratu Samuel di Perbatasan: Keluarga Tuntut Panglima TNI Usut Dugaan Kejanggalan

MAHATVA.ID -​Kematian Pratu Samuel Ebet Warlela (25), prajurit Yonarmed 4/Parahyangan yang tewas di perbatasan RI-Malaysia, menuai prasangka berat akibat sederet kejanggalan kronologi.

​Keluarga menolak mentah-mentah kesimpulan awal tewasnya korban akibat kecelakaan tunggal dan mendesak Panglima TNI turun tangan mengusut tuntas perkara ini.

​Samuel dinyatakan gugur pada Selasa (25/8/2026) pukul 04.30 WITA setelah dievakuasi ke RS Pratama Krayan dengan indikasi benturan fatal di kepala.

​Namun, pengoperasian dua unit sepeda motor yang berbeda dari kepemilikan asli korban memicu kecurigaan bahwa bukti fisik telah dimanipulasi.

​Keluarga mempertanyakan alasan pihak satuan tidak segera menyerahkan kendaraan yang digunakan korban saat insiden maut tersebut terjadi.

​Dokumentasi serta fisik kendaraan baru disodorkan kepada keluarga beberapa waktu setelah kejadian dengan rincian yang saling bertabrakan.

​Sehari sebelum kematiannya, komunikasi terakhir Samuel mengindikasikan tekanan finansial hebat yang melibatkan atasan langsungnya.

​Melalui pesan singkat, korban memohon bantuan uang hingga berniat menggadaikan ponselnya guna menutupi pinjaman dana dari Komandan Kompi (Danki).

​Keluarga juga mengantongi bukti riwayat percakapan yang mengarah pada dugaan ancaman serius terkait urusan utang piutang tersebut.

​"Kami meminta Panglima TNI mengusut sampai tuntas. Kalau memang kecelakaan, buktikan secara terang melalui pemeriksaan. Namun jika ada keterlibatan pihak lain, hukum wajib ditegakkan tanpa pandang bulu," tegas perwakilan keluarga saat ditemui, Kamis (27/8/2026).

​Kebocoran Benteng Pengawasan Perbatasan

​Di luar urusan piutang, longgarnya pengawasan di wilayah perbatasan garis depan Satgas Pamtas Gabma Long Midang menjadi sorotan utama.

​Keluarga mempertanyakan bagaimana seorang prajurit aktif dapat keluar pos penjagaan pada dini hari tanpa izin, pencatatan, maupun pengawasan resminya.

​Guna memecah kebuntuan, keluarga mendesak otopsi forensik independen, rekonstruksi TKP, pencocokan pola luka, hingga penelusuran rekam digital secara menyeluruh.

Halaman:

Terkini