berita

Kemarau Ganggu Jalur Tongkang Lapangan Bangkanai, Kondensat 600 BOPD Diangkut Lewat Jalur Alternatif

Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:08 WIB
Kemarau Ganggu Jalur Tongkang Lapangan Bangkanai, Kondensat 600 BOPD Diangkut Lewat Jalur Alternatif

JAKARTA, MAHATVA.ID – Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah berdampak terhadap aktivitas pengangkutan kondensat dari Lapangan Bangkanai. Surutnya debit air sungai membuat tongkang atau barge yang selama ini digunakan untuk mengangkut kondensat tidak dapat beroperasi secara optimal.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kelancaran pengangkutan kondensat dari Lapangan Bangkanai, Kalimantan Tengah.

Selama ini, kondensat dari lapangan tersebut disalurkan melalui jaringan pipa sepanjang kurang lebih 200 kilometer menuju lokasi pemuatan ke barge atau tongkang.

Namun, akibat kemarau panjang, permukaan air sungai mengalami penyurutan sehingga tongkang yang biasa digunakan untuk menampung kondensat tidak dapat digunakan.

“Sehubungan dengan kemarau panjang, sungai di Kalimantan airnya surut sehingga barge/tongkang yang biasa digunakan untuk menampung kondensat melalui pipa sepanjang kurang lebih 200 kilometer dari Lapangan Bangkanai, Kalimantan Tengah, tidak bisa digunakan,” ujar Djoko.

Untuk menjaga kelancaran distribusi, SKK Migas bersama pihak terkait menyiapkan skema alternatif pengangkutan kondensat.

Produksi kondensat sekitar 600 barel per hari (BOPD) akan diangkut menggunakan truk tangki. Selanjutnya, kondensat tersebut dibawa menggunakan Landing Craft Tank (LCT) menuju kawasan sungai atau pelabuhan yang masih memungkinkan untuk disandari LCT.

Skema tersebut menjadi langkah alternatif di tengah kondisi sungai yang mengalami penyurutan akibat kemarau panjang.

Penggunaan moda transportasi darat dan LCT diharapkan dapat menjaga agar produksi kondensat dari Lapangan Bangkanai tetap dapat disalurkan meskipun kondisi perairan belum memungkinkan bagi operasi tongkang seperti biasanya.

Djoko Siswanto berharap kondisi kemarau panjang segera berakhir sehingga debit air sungai kembali normal. Selain mendukung kelancaran aktivitas pengangkutan kondensat, turunnya hujan juga diharapkan dapat membantu mengatasi kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.

“Mohon doa, kemarau segera berakhir, hujan datang agar sungai-sungai ada airnya lagi dan kebakaran padam,” ungkap Djoko.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keberadaan jalur transportasi sungai memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas operasional industri migas di wilayah Kalimantan.

Dengan adanya langkah alternatif pengangkutan melalui truk tangki dan LCT, kegiatan distribusi kondensat diharapkan tetap berjalan sembari menunggu kondisi sungai kembali memungkinkan untuk dilalui tongkang.

Upaya tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan kesiapan operasional dalam menjaga keberlangsungan produksi serta distribusi migas di tengah tantangan kondisi alam.

Terkini