berita

Panggung Seni HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Angkat Semangat Inklusivitas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 05:52 WIB
Panggung Seni HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Angkat Semangat Inklusivitas

JAKARTA, MAHATVA.ID — Musik, tarian, hingga pencak silat menghadirkan warna keragaman budaya Indonesia di halaman Istana Merdeka, Jakarta. Ratusan seniman dan penampil dari berbagai latar belakang serta kelompok usia tampil dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Panggung kesenian bahkan telah menghidupkan suasana Istana Merdeka sebelum upacara peringatan kemerdekaan dimulai. Gita Bahana Nusantara (GBN) membuka rangkaian pertunjukan dengan membawakan sejumlah lagu daerah dari berbagai penjuru Nusantara.

Kemeriahan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tari kolosal yang menampilkan kekayaan seni tradisional, di antaranya dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.

Sejumlah penyanyi perempuan Indonesia juga turut ambil bagian dalam persembahan seni tersebut. Angel Pieters membawakan Zamrud Khatulistiwa, Lea Simanjuntak menyanyikan Negeriku, sementara Dira Sugandi tampil dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Setelah upacara selesai, sajian kesenian Nusantara kembali dilanjutkan. Gita Bahana Nusantara berkolaborasi dengan Sekolah Rakyat membawakan lagu Hari Merdeka yang semakin membangkitkan semangat nasionalisme para tamu dan masyarakat.

Salah satu pertunjukan utama mengangkat tajuk “Indonesia Rumah Bersama”. Pertunjukan tersebut melibatkan ratusan penampil dari berbagai latar belakang dan kelompok usia dengan memadukan musik, tarian, hingga pencak silat.

Kurator penari, Eko Supriyanto, mengatakan konsep pertunjukan mengedepankan nilai inklusivitas yang selaras dengan tema HUT ke-81 Kemerdekaan RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

“Yang pastinya, yang paling utama dan penting adalah kita menampilkan lebih inklusif. Semakin tahun, semakin harus lebih inklusif dan semakin merata,” jelas Eko.

Menurut Eko, pertunjukan tersebut dirancang dengan menggabungkan berbagai unsur seni dan budaya Nusantara. Kolaborasi juga melibatkan penampil dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar, penyanyi, penari, atlet, hingga unsur Universitas Pertahanan (Unhan).

“Kita juga menunjukkan betapa kolaborasi antara pertunjukan-pertunjukan dari seluruh skema yang ada di seluruh Nusantara, kita gabungkan dengan Unhan, Universitas Pertahanan,” ungkapnya.

Keterlibatan berbagai kelompok usia menjadi bagian penting dalam konsep pertunjukan Indonesia Rumah Bersama. Pelajar tingkat SMP dan SMA hingga mahasiswa mendapatkan ruang untuk tampil berdampingan dengan para seniman.

Eko menilai keterlibatan tersebut menjadi gambaran nyata mengenai semangat inklusivitas dalam mengisi kemerdekaan.

“Inklusivitas itu termasuk dari teman-teman Unhan, termasuk dari seniman-seniman, bahkan anak-anak kecil dari SMP, SMA, perguruan tinggi juga kita tampilkan,” katanya.

Keberagaman penampil sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk memperkuat persatuan. Perbedaan usia, latar belakang, dan bidang keahlian dipertemukan dalam satu panggung untuk menyampaikan pesan kebangsaan.

Halaman:

Terkini