berita

Kontroversi Balogun Memanas, UEFA Kecam FIFA Usai Kartu Merah Penyerang AS Dibatalkan

Selasa, 7 Juli 2026 | 15:57 WIB
Kontroversi Balogun Memanas, UEFA Kecam FIFA Usai Kartu Merah Penyerang AS Dibatalkan

JAKARTA, MAHATVA.ID – Keputusan FIFA membatalkan sanksi kartu merah terhadap penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, memicu gelombang kontroversi di dunia sepak bola internasional. Langkah yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya itu menuai kritik keras dari UEFA, Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA), hingga sejumlah tokoh sepak bola dunia karena dianggap mengancam integritas kompetisi Piala Dunia 2026.

Balogun sebelumnya menerima kartu merah saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia-Herzegovina pada babak 32 besar. Berdasarkan Kode Disiplin FIFA, kartu merah tersebut semestinya membuatnya menjalani hukuman larangan bermain otomatis.

Namun secara mengejutkan, FIFA membatalkan sanksi tersebut sehingga Balogun tetap dapat dimainkan sebagai starter ketika Amerika Serikat menghadapi Belgia pada babak 16 besar, Selasa (7/7/2026) dini hari WIB.

Keputusan tersebut menjadi sorotan karena Balogun merupakan pencetak gol terbanyak Amerika Serikat di turnamen dengan koleksi tiga gol.

UEFA Sebut Keputusan FIFA Tidak Masuk Akal

UEFA menjadi organisasi pertama yang secara terbuka mengecam keputusan FIFA.

Dalam pernyataan resminya, badan sepak bola Eropa itu menyebut pembatalan hukuman Balogun sebagai keputusan yang "belum pernah terjadi sebelumnya, tidak masuk akal, dan tidak dapat dibenarkan."

UEFA menegaskan bahwa hukuman larangan bermain setelah kartu merah merupakan prinsip dasar dalam regulasi sepak bola internasional.

"Ketika kepastian hukum tidak lagi dijamin oleh pihak yang seharusnya menjaganya, maka integritas permainan sedang dipertaruhkan dan kredibilitas kompetisi pun runtuh," tulis UEFA.

Menurut data sejarah Piala Dunia, dari 188 kartu merah yang pernah dikeluarkan, hanya satu kasus serupa yang pernah terjadi, yakni terhadap legenda Brasil Garrincha pada Piala Dunia 1962. Namun insiden tersebut berlangsung sebelum aturan larangan bermain otomatis diberlakukan.

Dugaan Intervensi Politik

Kontroversi semakin membesar setelah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump disebut menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino beberapa hari sebelum keputusan pembatalan sanksi diumumkan.

Laporan tersebut menyebut komunikasi dilakukan pada 2 Juli 2026 untuk membahas status hukuman Balogun.

Beberapa hari kemudian, Trump bahkan menyampaikan ucapan terima kasih kepada FIFA karena telah membatalkan apa yang disebutnya sebagai "ketidakadilan besar."

Meski demikian, hingga kini FIFA belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pembatalan hukuman tersebut.

Belgia Protes Keras

Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) mengaku terkejut dengan keputusan FIFA.

Halaman:

Terkini