berita

Perundingan AS-Iran di Swiss Terguncang, Delegasi Teheran Tinggalkan Meja Negosiasi Usai Ancaman Trump

Senin, 22 Juni 2026 | 14:08 WIB
Perundingan AS-Iran di Swiss Terguncang, Delegasi Teheran Tinggalkan Meja Negosiasi Usai Ancaman Trump

JAKARTA, MAHATVA.ID – Perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Bürgenstock, Swiss, mengalami guncangan serius setelah delegasi Teheran menghentikan sementara pembicaraan dan meninggalkan meja negosiasi sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Langkah tersebut terjadi saat kedua negara tengah berupaya menindaklanjuti nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk persoalan Selat Hormuz dan program nuklir sipil Iran.

Meski meninggalkan ruang perundingan, kedua pihak dilaporkan telah mencapai kemajuan awal terkait mekanisme pengecualian sanksi ekspor minyak Iran yang menjadi salah satu tuntutan utama Teheran sebelum pembahasan lebih lanjut mengenai program nuklir dapat dilanjutkan.

Pejabat Iran mengklaim bahwa keringanan sanksi tersebut akan segera diterbitkan. Selain itu, pembahasan mengenai pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di sejumlah bank luar negeri juga disebut mengalami perkembangan positif.

Sebelumnya, Washington dan Teheran telah menyepakati nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri blokade di Selat Hormuz sekaligus membuka jalur negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir sipil Iran.

Namun suasana diplomasi berubah tegang setelah berbagai pernyataan Trump melalui media sosial dan wawancara televisi dinilai mengandung ancaman terhadap Iran. Delegasi Teheran menilai pernyataan tersebut bertentangan dengan semangat kesepakatan yang baru saja dicapai.

Kepala Delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa ancaman dari Amerika Serikat tidak akan memengaruhi sikap negaranya.

"Apakah mereka tidak berpikir bahwa jika ancaman mereka memiliki pengaruh, mereka tidak akan sampai pada keputusasaan yang mereka hadapi saat ini? Kami sama sekali tidak memperhitungkan ancaman Amerika," tegas Ghalibaf.

Iran juga menilai nota kesepahaman yang ditandatangani bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengandung semangat nonagresi, sehingga pernyataan Trump dianggap bertolak belakang dengan komitmen yang telah disepakati.

Situasi semakin rumit setelah Iran kembali mengumumkan blokade di Selat Hormuz sebagai respons atas berlanjutnya serangan Israel di Lebanon. Teheran menuding Amerika Serikat gagal menekan Israel untuk menghentikan operasi militer yang dinilai melanggar semangat kesepakatan perdamaian.

Pada Sabtu (20/6), serangan Israel di wilayah Lebanon tengah dan selatan dilaporkan menyebabkan lebih dari 30 korban jiwa. Menanggapi perkembangan tersebut, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.

"Iran harus segera menghentikan para proksi mereka di Lebanon yang dibayar mahal untuk membuat masalah. Jika mereka tidak melakukannya, kami akan kembali menghantam Iran dengan sangat keras," tulis Trump melalui media sosial.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan tindakan terhadap Selat Hormuz apabila negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan.

Sikap Trump tersebut berbanding terbalik dengan pendekatan yang diambil Wakil Presiden AS, JD Vance. Ia menegaskan bahwa pemerintah AS masih membuka peluang diplomasi dan menginginkan hubungan yang lebih konstruktif dengan rakyat Iran.

Halaman:

Terkini