JAKARTA, MAHATVA.ID – Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa keberhasilan industri hulu minyak dan gas bumi tidak terlepas dari besarnya pengorbanan yang dilakukan investor maupun para pekerja migas yang berada di garis depan operasional.
Menurut Djoko Siswanto, di balik setiap keberhasilan pengeboran sumur minyak dan gas terdapat risiko besar yang harus ditanggung oleh kedua pihak tersebut, mulai dari ketidakpastian investasi hingga ancaman keselamatan kerja di lapangan.
“Di atas rig yang berdiri kokoh di tengah laut, tengah hutan, atau padang tandus, ada dua cerita pengorbanan yang berjalan beriringan, yakni pengorbanan investor dan pekerja migas,” ujar Djoko Siswanto.
Investor Menanggung Risiko Besar Sebelum Sumur Dibor
Djoko menjelaskan, sebelum mata bor pertama menyentuh lapisan bumi, investor terlebih dahulu harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk berbagai tahapan persiapan.
Mulai dari kegiatan survei seismik, pengurusan perizinan, hingga penyewaan rig pengeboran membutuhkan investasi bernilai miliaran bahkan triliunan rupiah.
Namun demikian, seluruh investasi tersebut dilakukan dalam kondisi penuh ketidakpastian karena tidak ada jaminan bahwa sumur yang dibor akan menghasilkan minyak dan gas dalam jumlah ekonomis.
Menurutnya, tidak sedikit sumur eksplorasi yang berakhir sebagai dry hole atau sumur kering yang tidak menghasilkan cadangan hidrokarbon sesuai harapan.
“Modal bisa hilang, waktu terbuang, dan nilai investasi dapat turun ketika hasil pengeboran tidak sesuai target,” katanya.
Selain risiko teknis, investor juga menghadapi tantangan lain seperti perubahan regulasi, fluktuasi harga minyak dunia, hingga dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi keberlangsungan proyek hulu migas.
Pekerja Migas Pertaruhkan Keselamatan di Lapangan
Di sisi lain, para pekerja migas menghadapi risiko yang lebih bersifat fisik dan operasional dalam menjalankan aktivitas pengeboran maupun produksi.
Mereka bekerja secara bergilir selama 24 jam non-stop di lokasi yang sering kali jauh dari pemukiman dan keluarga, baik di lepas pantai, kawasan hutan, maupun daerah terpencil lainnya.