berita

Mafia Timah dan Diamnya Lanal Babel: Ketika Amanat Presiden Prabowo Diabaikan

Senin, 9 Juni 2025 | 17:39 WIB
Mafia Timah dan Diamnya Lanal Babel: Ketika Amanat Presiden Prabowo Diabaikan

Presiden Prabowo Subianto dalam banyak kesempatan telah menegaskan bahwa TNI harus menjadi benteng utama dalam melindungi kekayaan alam Indonesia. Instruksi ini jelas dan tidak bisa ditawar.

Namun ketika kasus besar seperti ini justru disikapi dengan sikap pasif dan bungkam, kita harus bertanya: di mana letak loyalitas? Apakah pada negara dan rakyat, atau pada kepentingan para mafia?

Ketika aparat sendiri diduga ikut bermain atau setidaknya membiarkan permainan berlangsung, maka kita tidak hanya sedang menghadapi penyelundupan, tapi juga pembusukan internal yang jauh lebih berbahaya.

Waktunya Bersih-Bersih Total

Bangka Belitung adalah pusat ekonomi timah nasional. Tapi status ini juga menjadikannya magnet bagi mafia timah lokal, nasional, hingga transnasional. Banyak yang percaya bahwa sektor timah di Babel telah dikuasai oleh oligarki kotor yang menjalar hingga ke jantung aparat keamanan.

Sudah saatnya Lanal Babel keluar dari kebisuan. Jawab secara terbuka: siapa pemilik timah? Siapa penyuplai? Siapa yang memerintahkan kapal? Siapa aparat yang “membantu” penyelamatan ABK?

Diam bukanlah bentuk netralitas. Dalam konteks ini, diam adalah keberpihakan.

Mabesal dan Kementerian Pertahanan Jangan Tutup Mata

Kasus ini harus menjadi alarm bagi Mabes TNI AL dan Kementerian Pertahanan. Tidak boleh ada toleransi terhadap aparat yang terlibat atau membiarkan praktik ilegal terjadi di wilayah tanggung jawabnya.

Jika tidak ada langkah tegas, maka pelabuhan akan terus menjadi panggung gelap bagi para mafia, dan lembaga militer akan kehilangan kepercayaan rakyat. Reformasi dan penegakan hukum harus menyasar bukan hanya pelaku lapangan, tapi juga sistem pengawasan, distribusi izin, hingga transparansi logistik laut.

Keadilan Tidak Bisa Diangkut Malam-Malam Tanpa Jejak

Rakyat Indonesia berhak tahu. Jika benar 47 ton pasir timah hampir dikirim keluar negeri, maka itu adalah skandal nasional yang tidak bisa ditangani dengan sekadar bantahan singkat.

TNI AL, khususnya Lanal Babel, harus membuktikan bahwa mereka berdiri di pihak rakyat.  bukan bersama para penjarah kekayaan bangsa.

Jika tidak, sejarah akan mencatat bahwa ketika publik meminta kejelasan, lembaga yang seharusnya menjaga laut justru memilih bersembunyi di balik gelapnya malam.

Diam yang memekakkan. Dan sejarah tidak pernah memaafkan.

Halaman:

Terkini