Ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data BPS 2024 mencatat rasio gini perkotaan di angka 0,402—mengindikasikan jurang kaya dan miskin yang nyata. Solusinya adalah redistribusi akses ekonomi, melalui perluasan inklusi keuangan dan program kerja yang menyentuh masyarakat akar rumput.
Jakarta Pasca-Ibu Kota: Dari Etalase Politik ke Laboratorium Kebijakan
Dengan perpindahan pusat pemerintahan ke IKN, Jakarta seharusnya tak lagi dijadikan panggung politik semata. Kini saatnya ibu kota lama ini bertransformasi menjadi laboratorium kebijakan urban, dengan konsistensi lintas periode pemerintahan.
Saya mengapresiasi keberlanjutan visi para pemimpin sebelumnya: dari program OK OCE era Bang Sandi, integrasi transportasi dan ruang terbuka era Pak Anies, hingga pendekatan teknokratis dan berkelanjutan dari Pak Pramono Anung. Salah satu klien saya bahkan harus relokasi karena kebijakan tata ruang yang mulai selektif—tanda bahwa Jakarta perlahan fokus ke sektor jasa, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Harapan Menuju Usia ke-500 Tahun
Dua tahun menuju usia emas 500 tahun, Jakarta layak mengevaluasi diri: apakah sudah benar-benar berubah, atau hanya berganti wajah?
Kami berharap Jakarta ke depan memberi ruang lebih bagi warga: dari zona budaya malam, ruang ekspresi publik, hingga distribusi infrastruktur yang merata. Tidak hanya indah di selatan, tapi juga di utara, barat, dan timur.
Dengan partisipasi warga, konsistensi kepemimpinan, dan keberanian menjalankan kebijakan publik yang pro-rakyat, Jakarta akan tetap menjadi poros penting peradaban urban Indonesia—bukan hanya sebagai ibu kota lama yang ditinggalkan, tapi sebagai kota global yang membanggakan.