- Industri Kehutanan dan Furnitur: Kemudahan impor bahan baku mendukung kapasitas ekspor furnitur, kemasan, dan produk pulp & paper bernilai tambah tinggi.
- Pupuk Subsidi: Deregulasi mempercepat distribusi ke petani, menekan harga, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
- Energi Alternatif: Pelonggaran impor solar industri, biodiesel, dan LPG memperkuat stabilitas energi di sektor tekstil, makanan, dan petrokimia.
- Plastik dan Kimia: Kebutuhan bahan baku seperti kopolimer polipropilena, STPP, dan asam formiat kini terpenuhi lebih cepat—mempercepat proses manufaktur dan mengurangi waktu tunggu dari 12 hari menjadi 4 hari.
- Makanan, Minuman, dan Kosmetik: Bahan aktif impor seperti sakarin dan fragrance kini bisa diperoleh lebih efisien.
- Industri Perhiasan: Relaksasi impor mutiara mentah memperkuat produksi kriya premium berorientasi ekspor.
Potensi Industri Lokal dan TKDN
Sirod juga menyoroti peluang strategis untuk mendorong substitusi impor jangka menengah. Ia mencontohkan sektor food tray stainless yang akan mengalami lonjakan permintaan akibat program "Makan Bergizi Gratis" dari pemerintah.
"Jika dilakukan integrasi hulu-hilir serta insentif fiskal, lini produksi lima juta tray per tahun punya payback period kurang dari tiga tahun dengan IRR 18%. TKDN bisa ditargetkan hingga 60% pada 2027," papar Sirod.
Alas Kaki dan Mobilitas Hijau
Pada sektor alas kaki, enam pos HS Code yang direlaksasi mencakup sepatu olahraga premium dengan teknologi tinggi seperti super-foam mid-sole dan performance-grade cleats.
Untuk sektor transportasi ramah lingkungan, relaksasi pada impor sepeda roda dua dan tiga dalam bentuk CKD (completely knocked down) kit mendukung percepatan tren mobilitas hijau.
Catatan Kritis: Waspadai Celah Kebocoran
Meski berdampak positif, Sirod menekankan pentingnya pengawasan. Ia mengingatkan bahwa celah masuknya barang konsumsi jadi, praktik mark-up harga, dan penyalahgunaan kode HS berpotensi melemahkan UMKM dan industri kecil.